EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemarin ditutup menguat 1,41 persen menjadi 7.440. Indeks rebound dari koreksi tajam sehari sebelumnya dipicu koreksi harga minyak mentah, penguatan indeks bursa Wall Street dan Asia, serta technical rebound. Penguatan terbesar sektor basic materials seiring rebound harga emas. 

Rupiah juga ditutup menguat menjadi Rp16.855 per dolar Amerika Serikat (USD). Secara teknikal, Stochastic RSI berada di area oversold, namun belum mengindikasikan terjadi reversal. Pembentukan histogram negatif MACD juga masih berlanjut. Indeks masih ditutup di bawah level MA5. 

Sepanjang perdagangan hari ini, Rabu, 11 Maret 2026, indeks akan bergerak sideways pada kisaran 7.400-7.550. Kalau indeks bertahan di atas level 7.500, maka terbuka peluang rebound lanjutan menguji level 7.600. Data penjualan ritel domestik Januari 2026 tumbuh 5,7 persen YoY dari Desember 2025 di level 3,5 persen, lebih baik dibanding prediksi 4 persen YoY. 

Penjualan ritel Februari 2026 diperkirakan berakselerasi seiring Tahun Baru Imlek, Ramadan, dan menjelang Hari Raya Idulfitri. Investor AS akan menanti data inflasi Februari 2026 diperkirakan stabil di level 2,4 persen YoY. Sedang untuk core CPI diperkirakan stabil di level 2,5 persen YoY. 

Sebagai salah satu bentuk penguatan pasar modal, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebelumnya telah mengeluarkan regulasi pembentukan rekening khusus dana penawaran umum perdana saham alias Initial Public Offering (IPO). POJK Nomor 40 Tahun 2025 itu, merinci pembahasan rekening khusus dana IPO.

Di antaranya membahas tentang informasi rekening penampungan dana hasil penawaran umum, dan saldo terakhir. Berdasar data itu, Phintraco Sekuritas menyarankan investor untuk mengoleksi saham Indah Kiat (INKP), Astra (ASII), Indika (INDY), Merdeka Battery (MBMA), dan Timah (TINS). (*)