IHSG Jejak 7.101, Analis: Ada Peluang Lanjut Rebound
:
0
Papan perdagangan di gedung BEI, Jakarta. Foto: EmitenNews/Rifki
EmitenNews - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya berhasil menguat pada penutupan perdagangan Rabu (29/4/2026). Indeks menguat tipis 0,41 persen atau naik 28,83 poin ke level Rp7.101,23.
Berdasarkan riset MNC Sekuritas, posisi IHSG saat ini diperkirakan sedang berada pada bagian dari wave [v] pada label hitam atau alternatifnya berada pada bagian akhir dari wave [b] dari wave B pada label merah.
Koreksi IHSG diperkirakan akan cenderung terbatas menguji 6,983-7,009 dan berpeluang menguat dalam jangka pendek untuk menguji 7,188-7,270. Area support berada di kisaran level 7,022 dan 6,917, sedangkan resistance berada di kisaran 7,313 dan 7,484.
Sementara itu, Senior Technical Analyst, M Nafan Aji Gusta menyebut, secara teknikal IHSG berupaya rebound dari “wave B”. Berdasarkan indikator, RSI dan Stochastics K_D masih menunjukkan sinyal negatif, namun volume mengalami kenaikan.
Pada perdagangan sebelumnya, net foreign sell tercatat Rp986,58 miliar, sedangkan secara year to date net foreign sell telah mencapai Rp42,75 triliun. Sejak awal tahun, IHSG mengalami pelemahan hingga 17,88 persen, meski begitu angka ini mengalami penguatan tipis dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Nafan menambahkan, pada perdagangan hari ini, indeks diperkirakan akan berada di area support 7,014 dan 6,917, serta resistance di kisaran 7,244 dan 7,346. Sejumlah dinamika gloval dan domestik masih menjadi sentimen pergerakan indeks.
Di antaranya, The Fed akhirnya mempertahankan Fed Rate 3,50–3,75 persen. The Fed mencatat inflasi masih tetap tinggi, sebagian besar dipicu lonjakan harga energi global akibat konflik di Timur Tengah, sebagai faktor risiko utama menciptakan ketidakpastian tinggi terhadap prospek ekonomi global.
"Hal ini membuat ekspektasi rate cut pada 2026 menurun drastis. Di sisi lain, pertemuan FOMC ini merupakan yang terakhir yang dipimpin Jerome Powell sebagai Ketua The Fed, mengingat masa jabatannya akan berakhir pada 15 Mei 2026. Kevin Warsh diperkirakan akan mengambil alih posisi tersebut pada pertemuan berikutnya pada Juni 2026," ujar Nafan, Kamis (30/4/2026).
Adapun ketidakpastian di kawasan Timur Tengah, khususnya meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran setelah terhambatnya upaya diplomasi damai. Harga Brent oil hampir menyentuh USD113 per barel akibat ketidakpastian di Selat Hormuz. Hal ini memicu kekhawatiran inflasi global dan domestik, serta menekan lebih jauh nilai tukar Rupiah yang saat ini berada di kisaran Rp17.326 per USD. Sentimen ini menguntungkan saham sektor energi, namun menjadi beban bagi emiten yang memiliki eksposur impor tinggi maupun utang dalam mata uang USD.
Selain itu, investor sedang mengantisipasi rilis data US PCE bulan Maret yang diprediksi naik ke level 3,3 persen. Hal ini krusial untuk menentukan arah kebijakan suku bunga The Fed ke depan. Di sisi lain, Pasar mencermati hasil pertemuan ECB dan BoE yang diperkirakan masih akan mempertahankan suku bunga acuan masing-masing di level 2,15 persen dan 3,75 persen.
Related News
IHSG Akhirnya Ditutup di Zona Hijau, Menguat 0,41 Persen ke 7.101
Perluas Ekosistem Syariah, Bank BSN Relokasi Kantor Cabang Tangerang
9 Emiten Ini Cum Date Dividen 29–30 April 2026!, Ada ULTJ hingga PGEO
IHSG Sesi I (29/4) Ajeg Naik 0,12 Persen ke 7.080, 6 Sektor Menguat
Bea Masuk Impor LPG dan Bahan Baku Plastik Bakal Dipangkas Jadi 0%
IHSG Dibuka Menghijau 0,52 Persen ke 7.100





