EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan Rabu (29/4/2026) dengan kenaikan 37,12 poin atau 0,52 persen ke level 7.109,51. Pergerakan awal ini ditopang oleh 274 saham yang menguat, sementara 76 saham melemah dan 609 saham masih stagnan.

Aktivitas transaksi di sesi pembukaan relatif moderat dengan nilai mencapai Rp243 miliar, dari 788,6 juta saham yang diperdagangkan dalam 33.950 kali transaksi. Seiring itu, kapitalisasi pasar naik ke posisi Rp12.631 triliun.

Meski demikian, sentimen pasar belum sepenuhnya pulih. Pada perdagangan sebelumnya, Selasa (28/4), IHSG ditutup melemah 0,48 persen ke level 7.072,39. Tekanan terutama datang dari sektor consumer non-cyclicals yang turun 1,61 persen dan basic materials yang melemah 1,48 persen.

Arus dana asing masih menunjukkan tren kabur. Investor asing tercatat membukukan net sell sebesar Rp1,24 triliun di pasar reguler, dengan tekanan jual terbesar pada saham-saham berkapitalisasi besar seperti Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), Bank Central Asia Tbk (BBCA), Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Aneka Tambang Tbk (ANTM), dan Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN).

Tim Riset Reliance Sekuritas dalam terbitannya (29/4/2026) menjelaskan tekanan eksternal masih menjadi faktor dominan. Ketidakpastian konflik di Timur Tengah, khususnya terkait negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran soal akses Selat Hormuz, menjaga sentimen pasar tetap rapuh. Presiden AS Donald Trump dikabarkan tengah mempertimbangkan proposal Iran, namun belum ada kejelasan arah kebijakan yang akan diambil.

Secara teknikal, Reliance mencatat IHSG membentuk pola black spinning top dan masih bergerak di bawah MA5 dan MA20, dengan indikator stochastic menunjukkan dead cross di area deep oversold. Dengan kondisi tersebut, IHSG diproyeksikan bergerak pada kisaran support 7.021 dan resistance 7.128 dengan kecenderungan melemah.

Di tengah tekanan tersebut, Reliance merekomendasikan sejumlah saham pilihan untuk perdagangan hari ini, yakni HMSP, PGEO, ENRG, dan RAJA, seiring peluang teknikal jangka pendek yang masih terbuka di tengah volatilitas pasar. (*)