IHSG Mondar-Mandir di 7.000, BEI Lobi MSCI–FTSE Naikkan Bobot Indeks
:
0
.
EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak fluktuatif di kisaran 7.000 sedari pembukaan, intraday, hingga jelang penutupan perdagangan Selasa (7/4/2026) di tengah sikap wait and see pelaku pasar terhadap pengumuman evaluasi indeks oleh FTSE Russell yang dijadwalkan berlangsung pada Selasa (7/4/2026).
Di saat yang sama, Bursa Efek Indonesia (BEI) terus mengintensifkan komunikasi dengan investor global serta penyedia indeks seperti MSCI Inc. dan FTSE Russell guna menjaga hingga meningkatkan bobot Indonesia dalam indeks global.
Adapun sebelumnya, FTSE Russell telah menunda evaluasi indeks Indonesia yang semula dijadwalkan pada Maret 2026, dengan alasan ketidakpastian terkait perhitungan free float dan transparansi kepemilikan saham. Penundaan tersebut sekaligus membuat tidak ada perubahan komposisi maupun bobot saham Indonesia dalam indeks FTSE selama periode transisi.
Meski demikian, FTSE Russell tetap mempertahankan status Indonesia sebagai secondary emerging market dan menjadwalkan pengumuman lanjutan pada 7 April 2026, seiring pemantauan terhadap progres reformasi pasar yang tengah berlangsung.
Tekanan terhadap pasar sebelumnya juga dipicu kekhawatiran global terkait transparansi dan struktur kepemilikan saham, yang bahkan sempat menghapus kapitalisasi pasar hingga sekitar USD120 miliar sejak awal tahun.
Penjabat Sementara (Pjs.) Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik dikutip Selasa (7/4/2026), mengakui bahwa reformasi pasar yang tengah dilakukan seperti peningkatan batas minimal free float menjadi 15% serta penguatan keterbukaan data investor berpotensi menimbulkan tekanan jangka pendek, termasuk terhadap posisi Indonesia di indeks global.
“Secara realistis kita melihat memang potensi itu untuk jangka pendek ada. Artinya dengan transparansi dan tata kelola yang kita tingkatkan, ada potensi misalnya satu atau dua hal yang membuat global index provider untuk jangka pendek ini menurunkan bobot (suatu emiten). Potensi itu ada,” ujar Jeffrey.
Meski demikian, BEI menilai reformasi ini merupakan respons atas kekhawatiran investor global, terutama terkait transparansi dan struktur kepemilikan saham.
“Tetapi kita juga sangat menyadari bahwa apa yang kita lakukan selama ini untuk menjawab concern dari global index provider adalah untuk kebaikan jangka panjang industri pasar modal kita. Untuk itu kami meyakini untuk jangka panjang bobot Indonesia di global index provider akan naik,” lanjut Jeffrey.
Ia menegaskan, peningkatan transparansi, pendalaman pasar, serta perbaikan tata kelola diyakini akan menjadi katalis utama peningkatan partisipasi investor, baik global maupun domestik.
Kunjungi Link berikut untuk info lebih lanjut:
Penjabat Sementara (Pjs.) Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik. Foto: EmitenNews/Akhmad Jiharka.
Related News
Ikuti Bursa Asia, IHSG Menguat di Tengah Ada Harapan Damai AS-Iran
BEI Buka Akses Artis dan Influencer Jadi Investor hingga Gelar IPO
Kemkomdigi Blokir Polymarket, Judi Online Berkedok Prediction Market
Volume LCT Capai USD22,61 Miliar, Terbesar dengan China 89 Persen
BEI Usul Insentif Pajak Bagi Emiten Free Float 20-30 Persen
Terbit 2 Aturan Baru OJK, Atur Kategorisasi Broker & Manajer Investasi





