EmitenNews.com - Dana Moneter Internasional (IMF) mengkhawatirkan meningkatnya ekspektasi inflasi dan kemungkinan mencapai tingkat tinggi. Kondisi itu, menurut Kepala Ekonom IMF Pierre-Olivier Gourinchas, bisa memicu atau mendorong pengetatan kebijakan moneter yang lebih agresif di negara maju.
Pierre-Olivier Gourinchas mengatakan perang Rusia - Ukraina, yang menyebabkan harga energi dan pangan melonjak, dapat merusak ekspektasi inflasi tinggi selama beberapa dekade untuk mulai mereda di tahun ini.
"Pasar tenaga kerja yang sangat-sangat ketat di Amerika Serikat meningkatkan tuntutan kenaikan upah untuk mengejar harga lebih tinggi yang dapat membantu memperkuat ekspektasi inflasi," kata mantan Ekonom Universitas California-Berkeley seperti dilansir dari The Business Times, Kamis (21/4/2022).
Pierre-Olivier Gourinchas yang mulai beralih sebagai penasihat ekonomi IMF itu, menyebutkan, pasti ada risiko bahwa kita bisa mengalami spiral harga upah. “Ada risiko juga bahwa saat kita hidup melalui periode inflasi tinggi, dan kita mendengar bahwa itu naik dari lima menjadi enam menjadi tujuh menjadi delapan (persen) dan kita tidak melihatnya berbalik."
Hal itu akan menjadi berita buruk bagi Federal Reserve dan bank sentral negara maju lainnya. Ekspektasi inflasi di antara konsumen dan bisnis tetap cukup berlabuh pada tingkat jauh di bawah pembacaan tinggi inflasi terukur saat ini.
Durasi pembacaan inflasi yang tinggi merupakan risiko penurunan bagi Amerika Serikat dan beberapa negara maju lainnya. Jika inflasi tetap tinggi selama lebih dari beberapa bulan lagi dan terus naik, akan ada tekanan upah.
Related News
Ingat, Telat Lapor SPT Badan, DJP Hapus Sanksi Hanya Sampai Akhir Mei
TLKM Telat Sampaikan Annual Report 2025 dan Kuartal I, Sampai Kapan?
Perang Bawa Harga Urea Melonjak, Ancam Inflasi Pangan
Probabilitas Resesi Indonesia di Bawah 5 Persen
Harga Minyak Seret Rupiah, Rupee dan Peso Filipina ke Rekor Terendah
Pastikan IEU-CEPA Bisa Berlaku 1 Januari 2027, Industri Senyum Lega





