EmitenNews.com - Indeks dolar diperdagangkan stabil di kisaran level 101,5 pada hari Selasa, mempertahankan kenaikan dari sesi sebelumnya. Pergerakan ini terjadi saat investor menunggu keputusan kebijakan terbaru dari Federal Reserve (Fed), dengan pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga mencapai lebih dari sepertiga.

Tingkat ketidakpastian jelang pertemuan bank sentral Amerika Serikat kali ini dinilai sangat tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Berdasarkan data dari Trading Economics, probabilitas kenaikan suku bunga Fed pada bulan September mendatang saat ini berada di sekitar 56 persen.

Lembaga keuangan Citadel Securities memperkirakan Fed akan menaikkan suku bunga pada minggu ini. Langkah ini dinilai penting untuk memperkuat kredibilitas Ketua Fed Kevin Warsh dalam memimpin perang melawan inflasi, setelah ia berulang kali berjanji untuk memulihkan stabilitas harga di pasar.

Di sisi lain, perkasanya mata uang Amerika Serikat ini terus bertahan meski ada sinyal perbaikan situasi geopolitik global. Presiden Donald Trump menyampaikan bahwa Amerika Serikat tengah terlibat dalam pembicaraan yang baik dengan Iran untuk mengakhiri konflik di kawasan Timur Tengah.

Pernyataan Presiden Amerika Serikat tersebut berhasil mendorong penurunan harga minyak dunia secara signifikan. Penurunan harga komoditas energi ini sekaligus meredakan kekhawatiran pelaku pasar terhadap lonjakan inflasi dan ancaman pengetatan kebijakan moneter yang lebih agresif.

Bagi pasar keuangan Indonesia, ketahanan indeks dolar dan ketidakpastian suku bunga Fed ini berpotensi memberi tekanan pada pergerakan nilai tukar rupiah dan arus modal di pasar domestik. Pelaku pasar di dalam negeri mengantisipasi dampak dari arah kebijakan moneter Amerika Serikat terhadap stabilitas nilai tukar regional.(*)