Investor Selektif, IHSG Tetap Menyala
Seseorang berjalan di bagian teras depan gedung Bursa Efek Indonesia. FOTO - ISTIMEWA
EmitenNews.com - Indeks bursa Wall Street ditutup bervariasi mayoritas menguat tipis. Itu seiring sikap hati-hati investor menanti keputusan The Fed mengenai suku bunga acuan. Kemarin fokus investor tertuju pada laporan firma penempatan tenaga kerja Challenger, Gray & Christmas.
Berdasar laporan itu, sejak awal Januari hingga November 2025, pemberi kerja telah memangkas lebih dari 1 juta pekerja, angka tertinggi sejak 2020, dan naik 54 persen dari periode sama tahun sebelumnya. Pemutusan hubungan kerja (PHK) itu, dilatari beberapa hal.
Antara lain restrukturisasi korporasi, penggunaan teknologi kecerdasan buatan menggeser peran manusia, dan kebijakan tarif impor. Data ketenagakerjaan lemah tersebut, melengkapi data sebelumnya dari ADP, dan membuat probabilitas pemangkasan suku bunga acuan makin tinggi.
Penguatan mayoritas indeks bursa Wall Street, dan lonjakan harga beberapa komoditas itu, diprediksi menjadi sentimen positif pasar. Sementara itu, turunnya momentum aksi jual investor asing berpeluang menjadi tambahan sentimen positif untuk indeks harga saham gabungan (IHSG).
So, indeks diprediksi melanjutkan penguatan dengan kisaran support 8.595-8.550, dan resistance 8.685-8.730. Berdasar data itu, Retail Research CGS International Sekuritas Indonesia menyarankan saham EXCL, MAPI, ENRG, TINS, SSIA, dan MYOR sebagai bahan koleksi. (*)
Related News
IHSG Bangkit dari Tekanan, Tapi Masih Merah di Akhir Perdagangan
Efek MSCI Nyata Hanya Bagi Saham RI, Performa IHSG Terburuk Sedunia
Gagal Rebound, IHSG Sesi I Masih Koreksi 5,91 Persen ke 7.828
Pertamina Hulu Mahakam Tambah Produksi 2.000 Bph Dari Dua Sumur HPPO
Program Magang Lanjut Di 2026, 100 Ribu Kuota Disiapkan
Rotasi 22 Pejabat DJBC, Purbaya Tak Segan Rombak Ulang





