Jika dilacak dalam sejarah, Islam sebetulnya sangat mendukung pendekatan medis. Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi kerangka keilmuan dan logis. Banyak saintis muslim abad pertengahan yang berhasil menulis buku-buku kedokteran, sekaligus menjadi dokter.
Bahkan kitab "Kitab Al-Syifa" karya Ibnu Sina, pernah menjadi referensi bidang kedokteran oleh para dokter Barat selama 8 abad. Kitab tersebut merupakan ensiklopedia filsafat penyembuhan. Kitab Ibnu Sina lainnya ada "al-Qanun fi al-Thibb", yaitu susunan kitab pemikiran kedokteran Yunani-Arab.
Saintis muslim medis lainnya seperti Abu al-Hasan Ali bin Sahl Rabban al-Thabari. Ia menulis kitab berjudul "Firdaus al-Hikmah" (Surga Hikmah) yang menjadi salah satu mahakarya ilmiah mengenai obat-obatan tertua dalam bahasa Arab. Ia juga menulis ensiklopedia mengenai pediatri dan tumbuh kembang anak.
Ada juga Al-Razi atau Abu Bakr Muhammad bin Zakariyya al-Razi. Di dunia barat ia dikenal dengan nama Rhazes atau Albubator. Ia merupakan dokter muslim terbesar dan ilmuwan yang paling produktif. Bahkan ia disebut-sebut sebanding dengan Hippocrates dan Galen, yang merupakan dokter Yunani. Pada masanya, ia juga memimpin pengetahuan medis yang terkenal dalam menjaga kesehatan tubuh dan pikiran.
Namun demikian, selain berpijak pada aspek keilmuan medis dalam pengobatan, Islam telah mengenal juga pengobatan penyakit dengan pendekatan spiritual. Keduanya saling melengkapi. Para saintis muslim bidang kedokteran selain mendasarkan pada penelitian empiristik, juga menggali berbagai hikmah di dalam Alquran dan Hadis melalui pendekatan spiritual.
Apalagi berdasarkan banyak penelitian, penyakit fisik juga bisa ditimbulkan oleh faktor psikologis, khususnya kondisi spiritual yang buruk. Menurut American Psychological Association (APA), seseorang yang mengalami stres seringkali mengalami sakit perut. Bagaimana jika seseorang mengalami stres kronis? Stres kronis yang tidak kunjung diobati dapat melemahkan tubuh dari waktu ke waktu.
Emosi negatif seperti kemarahan ternyata juga bisa memicu serangan jantung dan masalah fisik lainnya. Dalam tradisi sufi, pengobatan terhadap penyakit dilakukan dengan psiko-terapi sufistik, sebuah pendekatan yang bersifat holistik, yaitu tajriby (observation and experiment), bayany (explanatory), burhany (logic), irfany (intuition).
Artinya, penyakit fisik tidak semata dipotret dari kaca mata medis (keilmuan dan empiristik) semata, tetapi perlu juga dilihat secara spiritual, karena manusia makhluk ruhani. Alquran sendiri juga disebut dengan istilah "asy-Syifa" atau obat penyembuh, baik lahir maupun batin. Allah berfirman: "Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (Alquran) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman". (QS: Yunus: 57).
Related News
Kunjungan Wisatawan ke Candi Borobudur Menurun, Ini Penyebabnya
Libur Lebaran 2026, ASDP Catat 39.760 Penumpang Tujuan Danau Toba
Lebaran 2026, Sambut Wisatawan ke Candi Borobudur TWC Siapkan Ini
Menemukan Jalan Pulang: Idul Fitri Sebagai Revolusi Spiritual & Sosial
Kabar Baik! Aktivitas Wisata Ranu Regulo Jatim Buka Kembali 21 Maret
IPOT Bagikan 4 Siasat Maksimalkan Duit THR





