EmitenNews.com - Keputusan Federal Reserve mempertahankan suku bunga acuan menahan pergerakan indeks dolar Amerika Serikat di bawah level 101 pada Kamis. Tertahannya greenback memberi ruang napas bagi nilai tukar rupiah dan pergerakan pasar keuangan di Indonesia setelah tekanan global beberapa waktu terakhir.

Pergerakan pasar uang ini terjadi usai penurunan tajam dolar pada sesi sebelumnya. Langkah Fed menahan suku bunga dilakukan di tengah meningkatnya risiko inflasi global akibat kembali bergejolaknya konflik militer di kawasan Timur Tengah.

Seperti diketahui keputusan penahanan suku bunga tersebut diwarnai perbedaan pendapat internal. Tiga anggota Komite Pasar Terbuka Federal atau FOMC menyuarakan penolakan dan memilih untuk mendukung kenaikan suku bunga acuan.

Sementara itu, Ketua Fed Kevin Warsh menekankan bahwa keputusan mempertahankan suku bunga tidak boleh dianggap sebagai tanda kelambatan kebijakan. Warsh menambahkan bahwa pasar keuangan akan terus merespons setiap data ekonomi yang masuk ke depannya.

Gejolak geopolitik turut membayangi pergerakan pasar keuangan global. AS dilaporkan melakukan serangan udara baru terhadap Iran sebagai balasan atas serangan terhadap pasukan Amerika di wilayah tersebut.

Upaya diplomasi kedua pihak masih menemui jalan buntu karena pihak Teheran tetap bersikeras mempertahankan kendali atas Selat Hormuz. Situasi ini membuat para pelaku pasar dan pedagang khawatir terhadap lonjakan inflasi serta prospek suku bunga global ke depan.

Di tempat lain, bank sentral utama dunia seperti Bank of England dan Bank of Japan juga secara luas diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan mereka tetap tidak berubah pada minggu ini.

Bagi Indonesia, kondisi tertahannya indeks dolar AS menjadi sentimen positif yang meredam tekanan atas pelemahan rupiah serta Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Meski demikian, para pelaku pasar dan investor domestik tetap mencermati dampak lanjutan dari ketegangan geopolitik global tersebut terhadap inflasi dan arus modal masuk.(*)