Khawatir Gencatan Senjata AS - Iran Buntu, Harga Minyak Melonjak
:
0
Harga minyak dunia melonjak lebih enam persen lebih pada perdagangan Senin pagi (20/4) karena khawatir gencatan senjata antara AS dan Iran buntu.
EmitenNews.com - Harga minyak dunia melonjak lebih enam persen lebih pada perdagangan Senin pagi (20/4) karena khawatir gencatan senjata antara AS dan Iran runtuh setelah AS menyita kapal kargo Iran dan lalu lintas melalui Selat Hormuz sebagian besar terhenti.
Melansir Reuters, AsiaOne menyebut harga minyak mentah Brent berjangka naik US$5,51 atau 6,1 persen, menjadi US$95,89 per barel pada pukul 7.52 pagi GMT dan minyak mentah West Texas Intermediate AS naik US$5,46, atau 6,5 persen, menjadi US$89,31.
Kedua kontrak tersebut anjlok 9 persen pada hari Jumat, penurunan harian terbesar sejak 18 April, setelah Iran mengatakan bahwa jalur bagi semua kapal komersial melalui Selat Hormuz tetap terbuka selama sisa masa gencatan senjata.
Hormuz Memanas
Presiden AS Donald Trump mengklaim Iran telah setuju untuk tidak lagi menutup selat yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia sebelum perang dimulai hampir dua bulan lalu.
"Dalam waktu 24 jam setelah pengumuman 'pembukaan sepenuhnya' pada hari Jumat, sudah ada kapal tanker yang ditembaki oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC)," kata analis Sparta Commodities, June Goh.
"Fundamental pasar semakin memburuk, karena 10-11 juta barel minyak mentah per hari masih terhenti produksinya," tambah Goh, merujuk pada kerugian dalam produksi minyak.
Amerika Serikat mengatakan pada hari Minggu bahwa mereka telah menyita sebuah kapal kargo Iran yang mencoba menerobos blokade mereka, sementara Iran mengatakan akan membalas, meningkatkan kekhawatiran akan dimulainya kembali permusuhan.
Teheran juga mengatakan tidak akan berpartisipasi dalam putaran negosiasi kedua yang diharapkan AS untuk dimulai sebelum gencatan senjata dua minggu berakhir pekan ini.
"Pasar keuangan sedang memperdagangkan negosiasi, perbaikan, dan penyelesaian, sementara pada saat yang sama pasar fisik memburuk dari hari ke hari," kata analis SEB Research, Bjarne Schieldrop.(*)
Related News
Pupuk Indonesia Masuk Pasar Australia, Total Ekspor Rp7 Triliun
Semula Account Officer, Kini Kindaris jadi Bos Baru PNM
Dolar AS Menguat, Kemendag Pangkas HPE dan HR Emas
Indeks Kospi Sudah Dekati 8.000, Ada Potensi Tembus 10.000
Saham-saham Teknologi Dorong S&P 500 dan Nasdaq ke Rekor Baru
Kabar Baik, Presiden Turunkan Bunga Kredit Orang Miskin jadi 8 Persen





