EmitenNews.com - Dalam Rapat Kerja bersama Komisi XII DPR RI, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menargetkan penghentian impor Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis bensin dapat diimplementasikan pada tahun 2027. Tapi, itu hanya berlaku untuk jenis BBM beroktan tinggi, mulai dari RON 92, RON 95, hingga RON 98. BBM bersubsidi seperti RON 90 yakni Pertalite masih akan dipenuhi melalui impor.

"Itu untuk bensin yang RON 92, 95, 98. Tinggal kita impor itu yang RON 90 saja, yang untuk subsidi BBM," kata Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dalam Rapat Kerja bersama Komisi XII DPR RI, dikutip Senin (26/1/2026).

Jadi, ke depan Indonesia  akan lebih banyak mengimpor minyak mentah yang nantinya akan diolah di kilang dalam negeri.

Selain penghentian impor produk BBM beroktan tinggi, pemerintah juga menargetkan penghentian impor avtur dapat dilakukan pada tahun 2027.

"Sekarang kami dengan Pertamina bekerja keras agar kelebihan solar yang 1,4 juta dikonversi menjadi bahan baku dalam membangun avtur agar 2027 betul-betul kita sudah tidak melakukan impor," katanya.

Selama ini Indonesia mengimpor bensin sekitar 24-25 juta kilo liter (kl) per tahun. Pasalnya, produksi bensin dalam negeri hanya sebesar 14 juta kl, sedangkan konsumsi bensin nasional mencapai 39-40 juta kl per tahun.

Pengoperasian proyek kilang minyak ekspansi atau Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan menjadi titik balik dalam memperkuat pasokan BBM nasional. Bertambahnya kapasitas Kilang Balikpapan membuka peluang Indonesia menghentikan impor BBM. Kebutuhan nasional bisa dipenuhi dari produksi dalam negeri.

Dengan beroperasinya proyek Kilang RDMP Balikpapan belum lama ini, maka impor bensin RI diperkirakan turun sebesar 5,8 juta kl.

"Operasi RDMP Balikpapan, menghasilkan 5,8 juta kilo liter per tahun. Sebanyak 39 juta kurang 14 juta kilo liter, impor kita pada 2025, kisaran 24 sampai 25 juta kilo liter. Dengan penambahan 5,8 juta, maka kurang lebih sekitar 19 juta lebih untuk kita impor di 2026 bensin," paparnya.

Selain dari peningkatan kapasitas kilang, target pengurangan impor bensin ini juga dipicu dari rencana penerapan mandatori bioetanol 10% pada 2027. Kalau etanolnya 10%, itu dapat melakukan efisiensi impor sebesar 3,9 juta.

Presiden Prabowo Subianto meresmikan proyek kilang "raksasa" Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan pada Senin (12/1/2026). Proyek yang menelan investasi sekitar Rp123 triliun ini, menjadi kilang minyak terbesar di Indonesia saat ini.

Proyek RDMP Balikpapan ini merupakan proyek ekspansi kilang, selain untuk meningkatkan kualitas, juga meningkatkan kuantitas volume pengolahan minyak mentah Kilang Balikpapan sebesar 100.000 barel per hari (bph), dari sebelumnya 260.000 bph menjadi 360.000 bph.