EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemerin ditutup menguat 0,72 persen menjadi 8.948 setelah bergerak fluktuatif. Secara teknikal, terjadi penyempitan histogram positif MACD, dan Stochastic RSI mengalami penurunan ke arah pivot. 

Indeks diperkirakan masih berkonsolidasi pada kisaran 8.840-9.000, selama tidak ditutup di atas level 9.000. Koreksi indeks masih wajar selama tidak ditutup di bawah level 8.730. Sementara itu, Rupiah berlanjut melemah di level Rp16.877 per dolar Amerika Serikat (USD) di pasar spot. 

Itu seiring penguatan indeks Dolar AS, dan pelemahan mayoritas mata uang Asia. Menko Perekonomian memastikan program mandatori campuran Bahan Bakar Nabati (BBN) biodiesel berbasis minyak sawit 40 persen (B40) pada BBM solar direalisasikan tahun ini. B50 dalam kajian dengan implementasi media 2026. 

Penerapan B40, dan B50 tersebut diharap mengurangi ketergantungan energi fosil, dan positif bagi pengembangan energi bersih. Kebijakan itu, berpotensi menjadi faktor positif bagi saham sektor perkebunan crude palm oil (CPO). Investor Tiongkok akan mencermati data trade balance Desember 2025 ditaksir surplus USD105 miliar dari November 2025 di level USD111,68 miliar. 

Sedang Amerika Serikat (AS), akan merilis indeks PPI Oktober dan November 2025. Selain itu, juga akan rilis data retail sales November 2025 diperkirakan tumbuh 0,3 persen MoM dari bulan sebelumnya stagnan. Menilik data itu, Phintraco Sekuritas menyarankan investor menyerok saham BBNI, BMRI, PGEO, JPFA, dan ISAT. (*)