EmitenNews.com- Perusahaan kontruksi plat merah PT PP Presisi Tbk (PPRE) sepanjang tahun 2021 membukukan laba bersih Rp58,56 miliar atau ambles 82,32 persen dari laba Rp331,27 miliar yang tercatat pada tahun 2019.

Berdasarkan data laporan keuangan telah audit PPRE pada laman BEI, Kamis (18/3). Tertera, total pendapatan bersih sepanjang tahun 2020 tercatat sebesar Rp2,33 triliun, atau turun 39,35 persen dibanding tahun 2019, yang tercatat sebesar Rp3,85 triliun.


Tapi, beban pokok pendapatan tercatat sebesar Rp1,894 triliun atau turun 36,90 persen dibanding akhir tahun 2019, yang tercatat sebesar Rp3,002 triliun. Sehingga laba kotor turun 47,98 persen menjadi Rp442,35 miliar dari Rp850,36 miliar.

Akhirnya laba per saham dasar emiten anak usaha BUMN ini anjlok menjadi Rp6 per 31 Desember 2021, sedangkan akhir tahun 2019, yang tercatat Rp32 per saham.


Adapun liabilitas atau ewajiban tercatat sebesar Rp4,05 triliun, atau turun 11,84 persen dibanding akhir tahun 2019, yang tercatat sebesar Rp4,59 triliun.

Sedangkan pada sisi ekuitas tercatat sebesar Rp2,84 triliun, atau turun 10,12 persen dibanding akhir tahun 2019, yang tercatat sebesar Rp3,16 triliun.

Hasilnya, aset perseroan tercatat sebesar Rp6,89 triliun, atau turun 11,14 persen dibanding akhir tahun 2019, yang tecatat sebesar Rp7,76 triliun.


Posisi keuangan emiten yang sangat perlu diperhatikan adalah arus kas diperoleh dari aktivitas operasi tercatat Rp271,26 miliar, ambruk 50,59 persen dibanding akhir tahun 2019, yang tercatat Rp549,10 miliar.

Sebagai inofromasi, secara kalkulasi penurunan laba PPRE sangat kompak dengan penurunan laba sang induk yaitu PTPP yang jauh lebih dalam hingga akhir 2020 mencatatkan laba bersih Rp128,72 miliar atau ambles 84,37 persen dibanding akhir tahun 2019, yang masih memperoleh laba Rp819,46 miliar, dibandingkan dengan entitas anak usahanya.

Saudara kandung lainya, PT PP Properti Tbk (PPRO) juga mengalami penurunan laba bersih sebesar Rp89,048 miliar pada akhir tahun 2020, atau turun 64,25 persen dibanding akhir tahun 2019, yang tercatat Rp249,681 miliar.