EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemarin terkoreksi 1,36 persen menjadi 9.010. Itu dipicu aksi profit taking setelah indeks mencetak rekor tertinggi sesi sebelumnya, kemudian diperparah sentimen negatif domestik menyusul keputusan Presiden Prabowo mencabut izin 28 perusahaan sektor kehutanan, perkebunan, energi, dan pertambangan akibat pelanggaran lingkungan. 

Tekanan jual berlangsung lintas sektor. Sektor industri minus 6,33 persen, properti susut 3,44 persen, dan transportasi terkelupas 3,04 persen menjadi penekan utama pergerakan indeks. Secara teknikal, indeks ditutup di bawah MA5, disertai penyempitan area positif MACD, dan stochastic RSI bergerak turun dari area overbought.

Dengan demikian, membuka peluang lanjutan koreksi dengan potensi pengujian area support di kisaran 8.950–9.000. Di sisi lain, keputusan Bank Indonesia (BI) mempertahankan BI Rate level 4,75 persen cenderung relatif sesuai ekspektasi pasar, dan belum mampu menjadi katalis penahan koreksi.

Itu mengingat fokus kebijakan moneter saat ini lebih diarahkan pada stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global. BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi domestik pada 2026 meningkat dalam kisaran 4,9-5,7 persen. Pertumbuhan itu, akan ditopang kenaikan permintaan domestik. 

Itu sejalan berbagai kebijakan pemerintah, dan berlanjutnya dampak positif dari bauran kebijakan bank sentral untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Efektivitas berbagai program stimulus pemerintah pada 2026 perlu diperkuat untuk mendorong konsumsi rumah tangga dan penyerapan tenaga kerja. 

Investasi diperkirakan lebih tinggi ditopang berlanjutnya program hilirisasi oleh pemerintah. Berdasar data itu, Phintraco Sekuritas menyarankan investor untuk mengoleksi sejumlah saham berikut. Yaitu, Vale Indonesia (INCO), Medco (MEDC), XLSmart (EXCL), Bank Syariah Indonesia (BRIS), dan Harum Energi (HRUM). (*)