Likuiditas Lemah dan Saldo Kas Memburuk, Kondisi Agung Podomoro (APLN) Mengkhawatirkan
:
0
EmitenNews.com -Fitch Ratings telah menurunkan Peringkat Jangka Panjang Issuer Default Rating (IDR) pengembang yang berbasis di Indonesia PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) menjadi 'RD' (Restricted Default) dari 'C', setelah penyelesaian dari penawaran tender. Kami percaya ini merupakan default terbatas berdasarkan definisi pertukaran utang tertekan (DDE) kami.
Selanjutnya Fitch telah meningkatkan IDR Jangka Panjang APLN menjadi 'CCC-' untuk mencerminkan prospek likuiditas perusahaan setelah penawaran tender. Saldo kasnya tidak cukup untuk membayar sisa surat utang tanpa jaminan 5,95% sebesar USD131,9 juta yang akan jatuh tempo pada 2 Juni 2024, dan kami yakin terdapat risiko eksekusi yang tinggi seputar kemampuan APLN untuk menggunakan asetnya yang tidak terbebani untuk mendukung upaya pembiayaan kembali atau pembayaran kembali.
Fitch juga telah meningkatkan surat utang dolar AS tanpa jaminan milik APLN yang jatuh tempo pada Juni 2024 menjadi 'CCC-', dari 'C', dengan Peringkat Pemulihan 'RR4'. Surat utang tersebut diterbitkan oleh anak perusahaan yang dimiliki sepenuhnya oleh APLN, APL Realty Holdings Pte. Ltd., dan dijamin oleh APLN dan beberapa anak perusahaannya.
DRIVER PERINGKAT KUNCI
DDE Mendorong Penurunan Peringkat: Kami menganggap penawaran tender APLN sebagai DDE, karena kami percaya bahwa amandemen persyaratan tersebut merupakan pengurangan yang material dari persyaratan aslinya dan bahwa transaksi tersebut membantu perusahaan untuk menghindari default tradisional, mengingat profil likuiditasnya yang tidak dapat dipertahankan. Dengan demikian, IDR Jangka Panjang diturunkan menjadi 'RD' setelah penyelesaian DDE, sejalan dengan kriteria kami.
Likuiditas Lemah, Saldo Kas Memburuk: Peningkatan selanjutnya menjadi 'CCC-' mencerminkan bahwa perusahaan tidak lagi dalam proses seperti default, dan prospek likuiditasnya yang lemah. Headroom minimal, dengan risiko eksekusi yang tinggi seputar kemampuannya untuk membayar utang dalam 12 bulan ke depan di tengah penurunan prapenjualan. Kami memperkirakan saldo kas konsolidasi perusahaan akan memburuk hingga di bawah Rp600 miliar pada akhir 2023 (akhir Maret: Rp900 miliar) jika penurunan prapenjualan tidak ditahan.
Related News
IHSG Sempat Tembus Level 7.200, Saham TPIA Masuk Top Losers
Tembok 7.200 Tak Tertembus, IHSG Siang (7/5) Nemplok di Level 7.117
Cek Sukuk Tabunganmu, Ada Penyesuaian Imbalan Untuk Seri Berikut
Indonesia Tawarkan Investor Global Kolaborasi di Proyek Hulu Migas
IATA Proyeksikan Indonesia Jadi Pasar Penerbangan Terbesar Ke-4 Dunia
IHSG Dibuka Menguat 1 Persen ke 7.161, Potensi Konsolidasi Bullish





