Listrik Jadi Tulang Punggung, Kapal Makin Seksi, Dividen Cair Lagi
:
0
Listrik Jadi Tulang Punggung, Kapal Makin Seksi, Dividen Cair Lagi. Dok Pikiran Rakyat Bengkulu
EmitenNews.com - Sepanjang semester pertama tahun 2026, PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA), emiten milik Prajogo Pangestu yang baru melantai di BEI tahun 2025, berhasil mencatatkan pertumbuhan pendapatan yang sangat solid. Uang masuk dari hasil usaha mereka menembus USD 82,14 juta, melonjak tajam sekitar 22,84% jika dibandingkan periode yang sama di tahun 2025 yang hanya sebesar USD 66,87 juta. Kenaikan yang cukup pesat ini tidak datang dengan sendirinya, melainkan banyak ditopang oleh tingginya pemakaian jasa di unit logistik mereka, terutama dari layanan sewa kapal laut yang sedang laris manis di pasaran. Laporan keuangannya di semester I-2026 berbicara apa?
Biaya Operasional Ikut Membengkak Saat Perusahaan Sedang Ekspansi
Walaupun keran pendapatan mengalir kencang, uang yang tersisa sebagai laba kotor ternyata hanya tumbuh tipis 2,80% menjadi USD 19,63 juta dibandingkan posisi USD 19,10 juta pada paruh pertama tahun lalu. Kondisi ini terjadi karena beban pokok untuk menghasilkan layanan tersebut naik jauh lebih cepat, yakni melompat 30,86% ke angka USD 62,50 juta.
Angka ini memberi sinyal adanya ketidakefisienan pada biaya operasi harian mereka. Tekanan yang lebih berat justru terlihat pada area laba usaha. Beban umum dan administrasi perusahaan melambung tinggi hingga 105% menjadi USD 11,84 juta, padahal di semester I-2025 angkanya hanya sekitar USD 5,76 juta.
Pembengkakan ini utamanya disumbang oleh naiknya tarif tenaga profesional dan biaya pegawai. Namun, secara kacamata bisnis ini adalah hal yang sangat wajar karena CDIA sedang dalam masa penyesuaian yang butuh modal besar setelah mencaplok sejumlah anak usaha baru seperti CIP (PT Chandra Investa Prima), CSI (PT Chandra Shipping International), MIM (PT Marina Indah Maritim), dan CTK (PT Chandra Tirta Karian) sepanjang tahun 2025 dan 2026.
Mengupas Angka Laba Bersih yang Terlihat Anjlok Parah
Jika kita hanya melihat angka laba bersih secara sekilas di lembar laporan, wajar jika banyak orang mengernyitkan dahi. Laba tahun berjalan CDIA tercatat sebesar USD 19,31 juta, alias menyusut drastis hingga 74,03% dibandingkan semester pertama 2025 yang sempat menembus USD 74,36 juta.
Akan tetapi, angka penurunan ini sebenarnya sangat mengecoh. Pada kuartal kedua tahun 2025, laba CDIA mendadak bengkak karena mendapat durian runtuh dari pos pencatatan "Keuntungan lain-lain - bersih" senilai USD 46,28 juta. Keuntungan jumbo ini bukan berasal dari hasil jualan riil ke pelanggan, melainkan dari lonjakan nilai instrumen keuangannya di pasar. Kalau pos keuntungan anomali yang sifatnya musiman ini kita singkirkan, kinerja uang yang masuk ke kantong perusahaan dari bisnis intinya sebenarnya jauh lebih stabil dan tidak seburuk yang terlihat di atas kertas.
Peta Kekuatan Bisnis: Listrik Jadi Tulang Punggung, Kapal Makin Seksi
Laporan keuangan CDIA memang tidak membeberkan laba bersih masing-masing divisi secara detail, tetapi kita bisa mengintip kekuatan tiap unit bisnis dari selisih pendapatan dan beban pokoknya. Divisi Daya & Jasa Listrik masih bertindak sebagai tulang punggung utama dengan menyetor pendapatan terbesar yakni USD 46,39 juta, atau mengambil porsi 56,48% dari total pemasukan perusahaan.
Related News
Era Saham “Hidup Segan Mati Tak Mau” Berakhir, Siapa Paling Dirugikan?
Tersingkir dari MSCI Mei 2026, Rapor AMMN Berbalik Laba Berkat Tembaga
Nasib Ritel Apes: D-50 Delisting Cuma MABA Buka Suara, Sisanya Gimana?
Dibeking 4 Klien Kakap, Saham Prajogo Tembus Top 10 MSCI Small Cap
Cuma 3, Ini Saham Indonesia yang Masuk Indeks High Dividend Yield MSCI
Omzet Produk Kimia Klinik Drop 73%, Emiten Debutan Ini Rugi Rp8,84M





