MSCI Soroti Transparansi Kepemilikan, Isu Besar Pasar Modal RI
Ilustrasi indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI). FOTO-Istimewa
EmitenNews.com - Koreksi tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) usai pengumuman kebijakan terbaru Morgan Stanley Capital International (MSCI) dinilai mencerminkan persoalan struktural dari saham-saham di pasar modal Indonesia.
Sebagai catatan, MSCI sejak Oktober 2025 berencana penggunaan Monthly Holding Composition Report yang dipublikasikan oleh KSEI sebagai tambahan referensi dalam menghitung free float saham emiten.
Direktur Eksekutif CSA Institute David Sutyanto menanggapi isu yang disorot MSCI terhadap komposisi free float serta struktural pemegang saham sebagai akar masalah terkait transparansi kepemilikan saham di Pasar Modal Indonesia.
“Koreksi signifikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini tidak dapat dipandang sekadar sebagai fluktuasi pasar yang biasa. Pergerakan tersebut mencerminkan adanya kekhawatiran yang lebih mendalam terhadap persepsi kualitas struktural pasar modal Indonesia, terutama setelah pernyataan dan kebijakan terbaru dari MSCI,” ujar David kepada Emitennews.com, Rabu (28/1).
MSCI pada 27 Januari 2026 mengumumkan penerapan perlakuan sementara terhadap pasar Indonesia dengan membekukan sejumlah perubahan dalam proses index review.
Kebijakan tersebut mencakup pembekuan kenaikan bobot atau Foreign Inclusion Factor (FIF) dan jumlah saham tercatat atau Number of Shares (NOS), penambahan konstituen ke MSCI Investable Market Indexes (IMI), serta perpindahan saham dari segmen small cap ke standard.
David menyoroti penggunaan istilah shareholders opacity oleh MSCI sebagai sinyal kuat dan kunci permasalahan terhadap keterbukaan struktur kepemilikan saham di Indonesia.
“Investor membutuhkan kejelasan yang lebih kuat mengenai siapa pemegang saham sesungguhnya, seberapa terkonsentrasi kepemilikan, bagaimana struktur pengendalian, serta bagaimana kualitas tata kelola yang menyertainya,” tegas David.
Ia menyebut peningkatan persepsi risiko dapat terjadi meskipun fundamental emiten Indonesia relatif solid.
Menurut David, tantangan utama saat ini adalah memastikan kualitas, konsistensi, dan kredibilitas data kepemilikan saham dapat diakses secara komprehensif oleh investor global.
Seperti diketahui, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk tajam pada perdagangan sesi I Rabu (28/1/2026) menyusul keputusan MSCI membekukan perubahan indeks sementara untuk pasar Indonesia. Tekanan jual masif membuat IHSG sempat nyaris menyentuh ambang trading halt.
Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup melemah 7,34% ke level 8.321 pada akhir sesi I, atau turun 659 poin. Sepanjang sesi, indeks sempat jatuh lebih dari 7,8%, mendekati batas penghentian sementara perdagangan di minus 8%. (*)
Related News
Sempat Rontok 3 Persen, IHSG Sesi Siang Berkunjung Pulih di 7.039
Animo Tukar Uang Pecahan Baru Meningkat Hampir Dua Kali Lipat
Hadapi Kemarau Lebih Awal, Petani Didorong Pakai Varietas Padi Adaptif
IHSG (16/3) Dibuka Tertekan di Awal Pekan, Ambruk 3,08 Persen ke 6.917
Sepakati Investasi Rp339 Triliun, Proyek Gas Masela Segera Dimulai
Mengekor Wall Street, IHSG Loyo





