EmitenNews.com -PT Asuransi Maximus Graha Persada Tbk (ASMI) atau Maximus Insurance menunjukkan sinyal kebangkitan yang cukup solid sepanjang sembilan bulan pertama 2025. Di tengah dinamika industri asuransi dan penerapan standar akuntansi baru IFRS 17, kinerja ASMI justru bergerak ke arah yang lebih sehat dan berkelanjutan.

Hingga Triwulan III 2025, ASMI mencatatkan pertumbuhan premi bruto sekitar 45% secara tahunan. Menariknya, lonjakan premi tersebut tidak diikuti oleh kenaikan klaim. Sebaliknya, klaim bruto justru membaik sekitar 15%, menjadi indikator kuat bahwa kualitas portofolio risiko perusahaan semakin terjaga.

Direktur Utama ASMI, Jemmy Atmadja, menegaskan bahwa penerapan IFRS 17 tidak menjadi hambatan bagi kinerja perseroan. Menurutnya, fokus utama perusahaan bukan sekadar mengejar angka pertumbuhan, melainkan menjaga kesehatan bisnis secara jangka panjang.

“Kami optimis dengan penerapan IFRS 17. Selama portofolio dijaga dan underwriting dilakukan secara prudent, hasilnya tetap positif. Kami tidak hanya fokus pada perolehan angka, tapi pada risiko yang kami ambil agar perusahaan tetap sehat,” ujar Jemmy.

Dari sisi teknis, perbaikan kinerja klaim bukan terjadi secara kebetulan. Direktur Teknik ASMI, Lianny, menjelaskan bahwa tren tersebut merupakan hasil dari pembenahan mendasar pada proses underwriting dan pengendalian risiko.

“Kondisi di mana premi meningkat sementara klaim justru membaik mencerminkan kualitas portofolio yang semakin baik. Kami lebih selektif dalam menerima risiko, portofolio bergeser ke segmen yang lebih sehat, dan proses klaim semakin efektif tanpa mengurangi kualitas layanan,” jelas Lianny.

Sejalan dengan itu, ASMI juga melakukan pembaruan produk untuk menjawab kebutuhan pasar yang terus berubah. Salah satu produk yang di-revamp adalah Maximus Home, yang kini hadir dengan struktur jaminan yang lebih relevan, fleksibel, dan adaptif terhadap berbagai profil risiko pemilik rumah.

“Tujuan kami sederhana: nasabah mendapatkan rasa aman yang lebih komprehensif, dengan perlindungan yang benar-benar menjawab kebutuhan mereka saat ini,” tambah Lianny.

Dari sisi permodalan, kondisi keuangan ASMI terpantau solid. Rasio solvabilitas (RBC) tercatat sebesar 162,74%, jauh di atas ketentuan minimum regulator. Rasio likuiditas juga berada pada level aman di 150,83%, mencerminkan kapasitas perusahaan dalam memenuhi kewajiban klaim kepada pemegang polis.

Manajemen juga menjelaskan bahwa keputusan pengembalian izin Unit Usaha Syariah merupakan langkah strategis yang telah melalui evaluasi menyeluruh. Skala usaha unit syariah dinilai belum berkembang optimal, sehingga perusahaan memilih untuk memfokuskan sumber daya pada bisnis inti konvensional yang memiliki prospek pertumbuhan lebih kuat.