Presiden Resmikan Kilang Minyak Rp123 Triliun, Hemat Impor BBM Rp68T
:
0
Presiden Prabowo Subianto meresmikan proyek kilang raksasa atau Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan senilai Rp123 triliun pada Senin (12/1/2026). Pengoperasian RDMP Balikpapan, berpotensi menurunkan nilai impor BBM hingga sekitar Rp68 triliun per tahun. Dok. Antara.
EmitenNews.com - Indonesia kini memiliki kilang minyak terbesar di Tanah Air yang dapat mengurangi ketergantungan kita terhadap impor. Presiden Prabowo Subianto meresmikan proyek kilang raksasa atau Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan senilai Rp123 triliun pada Senin (12/1/2026). Pengoperasian RDMP Balikpapan, berpotensi menurunkan nilai impor BBM hingga sekitar Rp68 triliun per tahun.
"Dengan modernisasi kilang minyak ini, kita akan menghemat devisa yang banyak. Kita tidak perlu lagi impor terlalu banyak BBM," ungkap Presiden Prabowo Subianto saat meresmikan 166 Sekolah Rakyat di 34 Provinsi di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Senin (12/01/2026).
Pembangunan kilang raksasa yang masuk Proyek Strategis Nasional (PSN) ini dimulai pada 2019 dan sempat mengalami perlambatan akibat pandemi COVID-19. Dengan konsistensi arah kebijakan dan komitmen kuat Kementerian ESDM, proyek ini tetap diselesaikan hingga dapat beroperasi penuh.
Proyek ini dikerjakan oleh PT Kilang Pertamina Balikpapan (KPB), anak usaha PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), Subholding Pengolahan dan Petrokimia milik PT Pertamina (Persero).
Proyek senilai USD7,4 miliar atau setara Rp123 triliun ini tidak hanya meningkatkan kapasitas menjadi 360 ribu BOPD, tetapi juga menaikkan porsi produk bernilai tinggi dari 75,3% menjadi 91,8%. Kualitas produk telah setara EURO V, sedangkan kompleksitas kilang meningkat signifikan dari 3,7 menjadi 8.
Bagusnya lagi, dengan beroperasinya RDMP Balikpapan ini, produksi dalam negeri akan diperkuat melalui tambahan gasoline, diesel, avtur, LPG, serta produk petrokimia seperti propilena. Total produksi ini berpotensi menurunkan nilai impor BBM hingga sekitar Rp68 triliun per tahun.
Yang juga menggembirakan proyek ini bisa menyerap puluhan ribu tenaga kerja, meningkatkan penggunaan produk dalam negeri, serta memberi kontribusi signifikan terhadap PDB nasional hingga Rp514 triliun.
Salah satu unit kunci dalam pengembangan kilang terintegrasi ini adalah Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC). Unit ini menjadi simbol keberhasilan strategi hilirisasi migas yang selama ini didorong oleh pemerintah, karena memungkinkan konversi residu menjadi BBM dan produk bernilai tambah tinggi, sekaligus meningkatkan efisiensi dan daya saing kilang nasional.
Alhasil, tonggak penting dari beroperasinya RDMP Balikpapan adalah penguatan ketahanan energi dari sisi konsumsi diesel.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Laode Sulaeman mengungkapkan, jika sebelumnya kebijakan mandatori B40 telah menurunkan impor solar, maka dengan tambahan kapasitas dan fleksibilitas produksi dari RDMP, Indonesia semakin dekat pada target bebas impor diesel.
Related News
Akselerasi Layanan Digital, Kunjungi Bank Jakarta di Jakarta Fair 2026
Usai 664 IUP Batu Bara Disetujui, Catat ESDM Masih Buka Peluang Lain
Patriot Bond Sukses Raih Rp50T, Danantara Rilis Obligasi USD1,5 Miliar
Harga Minyak Terjun di Bawah $90 per Barel
Kantongi POD, SAKA Kebut Pengembangan Lapangan Ronggolawe Pangkah
Saham AS Menguat Jelang Debut SpaceX Setelah Trump Melunak





