EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,53 persen menjadi 8.103 setelah sempat bergerak teritori positif. Pelemahan indeks antara lain dipicu sentimen negatif koreksi indeks bursa Asia, dan koreksi harga emas, meski data pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2025 di atas perkiraan. 

Pemerintah mematok pertumbuhan ekonomi 5,4 persen sepanjang 2026. Sedang Bank Indonesia (BI) memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di kisaran 4,9-5,7 persen untuk edisi 2026. Selanjutnya, investor menanti rilis laporan cadangan devisa Januari 2026, dan indeks harga properti kuartal IV-2025. 

Sepanjang kuartal IV-2025, ekonomi Indonesia tumbuh 0,86 persen di atas estimasi 0,68 persen secara kuartalan meski lebih rendah dari kuartal III-2025 di kisaran 1,42 persen. Itu menandai pertumbuhan kuartalan selama tiga kuartal berturut-turut meski melambat akibat adanya bencana alam Sumatra.

Pertumbuhan ekonomi secara tahunan tercatat 5,39 pesern YoY kuartal IV-2025, berakselerasi dari kuartal III-2025 di level 5,04 persen YoY, dan di atas estimasi 5,01 persen YoY. Pertumbuhan itu, juga pertumbuhan tahunan paling kuat sejak kuartal III-2022 dengan didukung oleh pertumbuhan sektor swasta, dan investasi yang meningkat. 

Pertumbuhan ekonomi sepanjang 2025 tercatat 5,11 persen YoY, di bawah target pemerintah 5,2 persen YoY, namun lebih baik dari edisi 2024 di level 5,03 persen YoY. Moody's Ratings menurunkan outlook peringkat Indonesia menjadi negatif dari sebelumnya stabil setelah penutupan bursa. 

Namun, Moody's mempertahankan rating Indonesia di level Baa2. Moody's menilai perubahan outlook didasari pada penurunan tingkat prediktabilitas dalam perumusan kebijakan, yang berisiko melemahkan efektivitas kebijakan dalam mengindikasikan pelemahan tata kelola. 

Kondisi tersebut berpotensi menjadi sentimen negatif pada perdagangan hari ini, Jumat, 6 Februari 2026. So, indeks berpotensi melanjutkan koreksi menguji level support 8.000. Berdasar data itu, Phintraco Sekuritas menjagokan saham CDIA, SCMA, ARTO, TPIA, dan ISAT sebagai bahan koleksi. (*)