EmitenNews.com - Harga saham Asuransi Tugu Pratama Indonesia (TUGU) sempat mengalami koreksi kala Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok diterpa sentiment rebalancing MSCI. Namun, harga saham anak usaha Pertamina Grup tersebut berhasil rebound dalam kurun waktu kurang dari satu minggu. 

Pada perdagangan Kamis, 5 Februari 2026, harga saham TUGU ditutup Rp1.250, naik 5,04 persen dibanding sehari sebelumnya. Padahal, saham TUGU sempat ditutup terkoreksi 5,15 persen ke Rp1.115 pada 28 Januari 2026. Kondisi tersebut masih lebih baik dibanding IHSG anjlok signifikan 7,35 persen pada hari yang sama. Tujuh hari berselang setelah kejadian itu, kondisi pasar mulai membaik. 

Dua hari terakhir, IHSG finish di zona hijau, dan pada perdagangan hari ini, IHSG ditutup di 8.103,88, melemah 0,53 persen dibanding sehari sebelumnya. Kalau dibanding posisi IHSG pada 27 Januari 2026, sebenarnya indeks saham acuan nasional tersebut masih terkoreksi 9,76 persen mengingat posisi IHSG kala itu di 8.980,2. Kontras dengan IHSG, saham TUGU justru sudah pulih mengingat posisi penutupan pada 27 Januari 2026 berada di Rp1.180. 

Menurut analis Kharel Devin dari Trimegah Sekuritas, sentimen MSCI masih menjadi faktor dominan dalam menggerakkan pasar saham saat ini. Isu transparansi mengenai free float saham-saham di Indonesia menjadi kekhawatiran investor turut memantik aliran modal asing keluar dari Indonesia. ”MSCI sentimen dominan saat ini. Namun, sebenarnya bukan berarti semua saham yang turun kinerjanya buruk. Beberapa saham masih menyimpan value atraktif untuk investasi jangka menengah panjang seperti TUGU,” kata Kharel. 

Menurutnya, koreksi harga saham TUGU relatif lebih terbatas dibanding pasar ditengarai beberapa faktor seperti komposisi, dan kepemilikan asing. Kharel tidak menampik di sektor asuransi umum, saham TUGU punya likuiditas, dan eksposur dana asing relatif tinggi dibanding dengan peers. Namun, ia melihat dibanding seluruh pasar (overall market), saham TUGU masih relatif kecil eksposurnya terhadap kepemilikan atau dana asing.

Oleh sebab itu, dalam dua hari terakhir ketika terjadi capital outflows masif, saham TUGU masih relatif lebih baik kinerjanya dibanding IHSG. Adapun faktor lain  juga patut menjadi pertimbangan adalah karakter saham TUGU sebagai saham defensif, dan undervalued. Kharel menjelaskan saham TUGU rutin membagi dividen tiap tahun dengan imbal hasil atraktif, dan valuasi sangat atraktif. 

“Tiga empat tahun terakhir payout 40 persen, dan dividend yield 6-7 persen. Ini tergolong high yield karena lebih tinggi dari bunga deposito. Valuasi di 0,38x Price to Book Value (PBV) juga di bawah rata-rata valuasi peers di 0,6-0,7x PBV. Artinya potensi upsidenya masih tinggi” tambah Kharel. 

Soal dividen, Kharel memprediksi TUGU mampu mempertahankan rasio pembayaran dividen (Dividend Payout Ratio) tetap 40 persen. Sementara menurutnya laba bersih berpotensi dikantongi TUGU secara konsolidasi berpotensi tetap di atas Rp700 miliar. 

“Kalau dilihat dari tren laba per segmen, dividen tunai setidaknya bisa Rp291 miliar atau setara Rp82 per saham. Dengan harga sekarang, yield bisa 8,2 persen. Ini sangat atraktif. Ini bisa menjadi katalis positif untuk saham TUGU. Jika dalam short term sentiment masih volatile setidaknya kalaupun tidak rebound expect saham TUGU lebih stabil” tambahnya. 

Menurut Kharel, TUGU berpotensi mengantongi laba bersih secara konsolidasi Rp715-738 miliar untuk tahun buku 2025. Itu mempertimbangkan segmen asuransi umum sudah mengantongi laba Rp575 miliar, dan segmen reasuransi dengan laba Rp172 miliar per Desember 2025.

Estimasi tersebut juga turut mempertimbangkan laba segmen usaha non asuransi umum dan reasuransi yang menyumbang 7-8 persen dari total laba TUGU serta adanya faktor penyesuaian dan eliminasi saat dilakukan konsolidasi. (*)