EmitenNews.com - Abadi Lestari (RLCO) baru menyerap dana initial public offering (IPO) Rp10 miliar. Itu setara 10 persen dari hasil bersih dana IPO senilai Rp100,23 miliar. Dengan begitu, Rp90,23 miliar alias 90 persen belum terealisasi sesuai skenario. 

Berdasar rencana, dana hasil IPO senilai Rp56,46 miliar atau 56,33 persen untuk modal kerja. Pada faktanya, serapan modal kerja hanya 17,7 persen alias Rp10 miliar dari alokasi awal Rp56,46 miliar. Selanjutnya, untuk setoran modal entitas anak usaha Rp43,77 miliar atau 43,66 persen belum teralisir. 

Oleh karena itu, sisa dana IPO belum terserap sejumlah Rp90,23 miliar, disemai dalam bentuk giro dengan tingkat bunga atau bagi hasil 1,5 persen. Sekadar informasi, pada 8 Desember 2025, perseroan mengemas dana Rp105 miliar. Setelah dipotong biaya IPO sebesar Rp4,76 miliar, emiten sarang burung walet tersebut menjala dana IPO Rp100,23 miliar. 

Di sisi lain, saham perseroan terus menggelit. Dalam tempo 20 hari perdagangan, saham perseroan berokol di level Rp5.050 per lembar. Melangit 2.906 persen alias 4.882 poin dari harga IPO senilai Rp168 per eksemplar. Hebatnya, 18 hari dari 21 hari perdagangan sejak listing pada 8 Desember 2025 lalu, saham perseroan mengalami auto reject atas alias ARA secara beruntun.

Per 31 Desember 2025, pemegang saham RLCO yaitu Realco Omega 2,42 miliar helai setara 77,6 persen, Edwin Pranata 72,5 juta lembar alias 2,32 persen, Edi Haryanto 1,25 juta eksemplar atau 0,04 persen, dan publik 626,25 juta lembar atau 20,04 persen. Jumlah pemegang saham menjadi 279.042 pihak, bertambah drastis dari bulan sebelumnya hanya 4 pihak. (*)