EmitenNews.com - Indeks Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Jumat, 15 Mei 2026. Pelemahan indeks dipicu profit taking pada saham-saham sektor teknologi, dan kenaikan yield obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS). Pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi berakhir tanpa ada kesepakatan besar, sehingga membuat investor kecewa. 

Yield US Treasury mengalami peningkatan, dengan tenor 30 tahun mencapai 5,1 persen, di tengah kekhawatiran akan inflasi, dan kenaikan suku bunga akibat kenaikan harga minyak mentah. Harga minyak mentah menguat di atas 3 persen akibat belum tercapai kesepakatan antara AS-Iran. So, konflik AS-Iran akan mempengaruhi pergerakan indeks bursa global.

Investor AS akan mencermati laporan keuangan Nvidia, dan FOMC minutes. Investor mencari indikasi arah suku bunga setelah data inflasi AS lebih tinggi dari perkiraan. Investor Tiongkok akan mencermati sejumlah data ekonomi, seperti industrial production, dan retail sales. Bank Sentral Tiongkok akan mempertahankan suku bunga pinjaman utama 1 tahun 3 persen, dan 5 tahun 3,5 perssen.

Investor dalam negeri akan mencermati rapat dewan gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) diperkirakan mempertahankan BI Rate 4,75 persen. Selain itu, akan rilis pertumbuhan kredit, transaksi berjalan, dan M2 Money Supply. Sementara itu, FTSE Russell telah meninjau perkembangan pasar modal Indonesia.

Meski begitu, FTSE Russel masih menunda pemeringkatan ulang indeks secara penuh, kenaikan free float, dan penambahan saham baru hingga review September 2026. Kalau IHSG breakdown level 6.700, berpotensi menguji level 6.500-6.550. Menilik data itu, Phintraco menjagokan saham CPIN, PGEO, JPFA, BTPS, SUPA, dan BULL. (*)