EmitenNews.com - Indeks bursa Wall Street ditutup melemah cukup signifikan. Itu didorong saham sektor teknologi tertekan seiring lonjakan imbal hasil obligasi seluruh tenor. Kondisi itu, diperparah pertemuan bilateral Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping tanpa menghasilkan kesepakatan.

Investor khawatir karena tidak ada terobosan kebijakan signifikan. Beberapa saham teknologi mengalami pelemahan cukup dalam antara lain Intel 6,18 persen, Nvidia 4,42 persen, Advanced Micro Devices 5,69 persen, dan Cerebras Systems Inc 10,08 persen. Imbal hasil obligasi pemerintah tenor 30 tahun naik 11 bps menjadi 5,12 persen.

Lalu, obligasi bertenor 10 tahun surplus 14 bps menjadi 4,08 persen, dan obligasi tenor 2 tahun melejit 9 bps  menjadi 4,08 persen Kenaikan imbal hasil obligasi tersebut tidak terlepas dari lonjakan angka inflasi April 2026 sebesar 3,8 persen YoY, dan berlanjutnya lonjakan harga minyak mentah yaitu WTI melejit 4,2 persen, dan Brent 3,35 persen.

Koreksi indeks bursa Wall Street, aksi jual investor asing, dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (USD) berlanjut diprediksi menjadi sentimen negatif untuk indeks harga saham gabungan (IHSG). Dengan demikian, IHSG diprediksi melanjutkan pelemahan dengan kisaran support 6.630-6.535, dan resistance 6.815-6.910.

Berdasar data itu, Retail Research CGS International Sekuritas Indonesia menyarankan investor mengoleksi saham Japfa (JPFA), Charoen Pokphand (CPIN), Triputra Agro (TAPG), Telekomonikasi Indonesia alias Telkom (TLKM), Timah (TINS), dan Gudang Garam (GGRM). (*)