Meskipun harus mencadangkan kerugian puluhan triliun rupiah, fondasi permodalan BBRI sama sekali tidak tertembus. Capital Adequacy Ratio (CAR) BBRI saja sangat kokoh di angka 21,06 persen.

Ketangguhan ini ditopang oleh kualitas modal inti (Common Equity Tier 1 / CET1) di level 19,93%, yang disokong oleh tumpukan "Saldo Laba Belum Ditentukan Penggunaannya" sebesar Rp219,64 triliun. Dengan total ekuitas Rp330,94 triliun, bank ini memiliki kapasitas internal yang masif untuk menyerap risiko gagal bayar portofolio mikro tanpa sedikit pun menyentuh modal intinya atau meminta suntikan dana lewat mekanisme rights issue.

Kesimpulan

Berbeda dengan bank yang sedang bergelut dengan mahalnya biaya dana, mesin fundamental salah satu Big Banks ini beroperasi nyaris sempurna. Penurunan laba murni merupakan imbas dari siklus kualitas kredit di tingkat akar rumput yang memaksa manajemen melakukan aksi defensif berupa pencadangan masif senilai nyaris Rp47 triliun. 

Dengan modal yang sangat gemuk dan dominasi CASA di atas 70%, BBRI sedang menyerap risiko hari ini untuk menjamin kualitas neraca yang jauh lebih bersih di masa depan. Titik krusial yang perlu dipantau investor di kuartal berikutnya adalah tren pelunasan di segmen micro-lending dan manuver pemberian kredit ke BUMN skala jumbo.

Disclaimer: Artikel ini merupakan hasil analisis independen berdasarkan data publik dan tidak bermaksud menyudutkan pihak mana pun. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan masing-masing investor, riset ini murni sebagai instrumen edukasi dan bukan instruksi transaksi jual/beli.