EmitenNews.com - Sebagai negara produsen crude palm oil (CPO) terbesar dunia, sepanjang 2023 produksi minyak sawit mentah Indonesia mencapai 50,07 juta ton. Melejit 7,15 persen dari periode akhir 2022 sebesar 46,73 juta ton. Produksi palm kernel oil (PKO) mencapai 4,77 juta ton atau naik 5,66 persen dari tahun sebelumnya 4,52 juta ton.

Saat ini, CPO menjadi salah satu komoditas paling banyak dibicarakan, dan digadang-gadang bakal menjadi alternatif energi ramah lingkungan seperti Biodiesel B35 dan B40. So, prospek perusahaan sawit Indonesia diprediksi lebih baik lagi seiring perkembangan teknologi, dan target hilirisasi.

Salah satu perusahaan sawit terbesar Indonesia, Sawit Sumbermas sarana (SSMS) juga menjadi salah satu emiten dengan market cap terbesar Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan kapitalisasi pasar hampir Rp10 triliun ini terus menunjukkan kinerja solid. Dalam menjalankan bisnis, Sawit Sumbermas fokus pada praktik bisnis berwawasan lingkungan.

Berbagai inisiatif hijau telah dilakukan Sawit Sumbermas untuk mewujudkan komitmen tersebut. Di antaranya mengelola, dan melestarikan kawasan dengan Nilai Konservasi Tinggi (NKT) dan Stok Karbon Tinggi (SKT) termasuk habitat dan ekosistem flora-fauna di sekitar area operasional perusahaan.

Secara kinerja dan mitigasi risiko, Sawit Sumbermas mengklaim El Nino berdampak pada tingkat produksi setiap perusahaan agro. Tapi manajemen sudah memiliki antisipasi atas risiko bisnis itu, dengan membangun lumbung-lumbung air, sehingga perubahan cuaca tidak berdampak signifikan pada produksi perseroan tetap bagus saat ini.

Deni Agustinus Corporate Secretary Sawit Sumbermas mengatakan, untuk dampak kepada masyarakat, perseroan juga terus memaksimalkan kerja sama dengan petani swadaya, dan membuat produksi CPO dari tingkap pemasok terus meningkat. "Saat ini, Sawit Sumbermas tengah fokus pada inovasi otomatisasi perkebunan," tegas Deni.

Sawit Sumbermas sangat berkomitmen dalam tata kelola sawit ramah lingkungan dan bertanggung jawab demi meningkatkan daya saing Indonesia di kancah internasional. "Untuk memastikan keberlanjutan bisnis, Sawit Sumbermas semaksimal mungkin mengelola kawasan NKT-SKT dalam bentuk perlindungan kawasan dengan cara membuat batas kawasan hutan, sungai, dan mata air," ucap Chief Sustainability Officer Sawit Sumbermas, Henky Satrio W.

Terhadap seluruh kawasan itu, Sawit Sumbermas secara rutin melakukan monitoring dan patroli kawasan, memasang papan himbauan dan larangan, memperkaya jenis tanaman konservasi  seperti Meranti, Ulin, Galam dan Jambu-jambuan. Kegiatan ini dilakukan secara mandiri di area Nursery tersebar setiap wilayah operasional.

“Awal 2024, tim konservasi Sawit Sumbermas telah melakukan pemantauan flora-fauna (biodiversity) pada empat unit bisnis tersebar di Kotawaringin Barat, Lamandau, Pulang Pisau dan Kapuas, khusus untuk pemantauan satwa dilakukan setiap enam bulan sekali,” ungkap Henky.

Hasil pemantauan itu, nanti dituangkan dalam laporan ilmiah. Memuat informasi jumlah, tingkat keanekaragaman jenis, dan status perlindungan. Beberapa jenis satwa langka masih ditemukan di area SKT-NKT. Itu menandakan ekosistem masih terjaga dengan baik sehingga menjadi habitat nyaman dan aman dalam mendukung kehidupan liar bagi satwa.