EmitenNews.com - Kaum pendatang telah menjadi pendorong utama keanekaragaman agama dan kultur di Nusantara, baik pendatang dari India, Tiongkok, Portugis, Arab, dan Belanda. Setiap keyakinan dan agama yang hadir di Nusantara disambut secara terbuka, termasuk ketika para saudagar dari berbagai bangsa menjelajahi dan singgah di Nusantara untuk mencari rempah-rempah sehingga muncul jalur rempah.

Jauh sebelum kedatangan orang-orang Eropa, orang-orang Tionghoa dan India sudah lebih dahulu mengetahui rute menuju pusat rempah-rempah. Namun, sejak sebelum abad ke-5 M, sebagaimana disinggung dalam kronik sejarah Tiongkok dan India, para pedagang dari Nusantara telah menguasai niaga komoditas berbau harum, yakni cengkeh dan pala. Kerajaan Sriwijaya dikenal sebagai penguasa di kawasan barat hingga tengah Nusantara sejak abad ke-8 hingga abad ke-10. Kerajaan ini mengontrol seluruh lintas laut bangsa Barat dan Tiongkok menuju rute kepulauan rempah-rempah dan Selat Malaka.


Hindu dan Buddha telah dibawa ke Indonesia sekitar abad ke-2 dan abad ke-4 Masehi ketika pedagang dari India datang ke Sumatera, Jawa, dan Sulawesi. Hindu mulai berkembang di pulau Jawa pada abad ke-5 Masehi dengan Kasta Brahmana yang memuja Dewa Siva. Kaum pedagang (saudagar) juga mengembangkan ajaran Buddha pada abad berikutnya. Sejumlah ajaran Buddha dan Hindu telah memengaruhi kerajaan-kerajaan besar di Nusantara, seperti Kutai, Sriwijaya, Majapahit, dan Syailendra.

Sebuah candi Buddha terbesar di dunia, Borobudur yang terletak di Magelang, Jawa Tengah telah dibangun oleh Kerajaan Syailendra. Pada waktu yang bersamaan dibangun pula candi Hindu, Prambanan di Yogyakarta. Puncak kejayaan Hindu-Jawa, Kerajaan Majapahit, terjadi pada abad ke-14 masehi yang juga menjadi zaman keemasan dalam sejarah Indonesia.


Sejurus dengan zaman keemasan Majapahit, Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-14 masehi. Salah satu teori menyebut, berawal dari Gujarat-India, Islam menyebar sampai pantai barat Sumatera kemudian berkembang ke timur pulau Jawa.

Teori Gujarat dicetuskan oleh G.W.J. Drewes dan dikembangkan oleh Snouck Hugronje, J. Pijnapel, W.F. Sutterheim, hingga J.P. Moquette ini meyakini bahwa Islam dibawa ke Nusantara oleh para pedagang dari Gujarat, India, pada abad ke-13 Masehi.

Salah satu bukti yang mendukung teori ini adalah ditemukannya makam Malik As-Saleh dengan angka 1297. Nama asli Malik As-Saleh sebelum masuk Islam adalah Marah Silu. Ia merupakan pendiri Kesultanan Samudera Pasai di Aceh.


Uka Tjandrasasmita dalam Arkeologi Islam Nusantara (2009) menjelaskan, corak batu nisan Sultan Malik As-Saleh memiliki kemiripan dengan corak batu nisan di Gujarat. Selain itu, hubungan dagang antara Nusantara dengan India telah lama terjalin. Ditemukan pula batu nisan lain di pesisir utara Sumatera bertanggal 17 Dzulhijjah 831 H atau 27 September 1428 M. Makam ini memiliki batu nisan serupa dari Cambay, Gujarat, dan menjadi nisan pula untuk makam Syekh Maulana Malik Ibrahim, dikenal sebagai Sunan Gresik, yang wafat tahun 1419.

Pada periode tersebut terdapat beberapa kerajaan Islam, yaitu kerajaan Demak, Pajang, Mataram, dan Banten. Pada akhir abad ke-15 masehi, sebanyak 20 kerajaan Islam telah dibentuk.

Setidaknya ada lima versi terkait teori-teori tentang masuknya ajaran Islam ke Nusantara beserta para pembawanya dan asalnya dari mana, yakni teori Arab (Timur Tengah), teori Cina, serta teori Gujarat (India) dan teori Persia (Iran), hingga teori Maritim.