EmitenNews.com - Kinerja semester I-2026 melampaui sejumlah target, PT Timah (Persero) Tbk (TINS) memutuskan untuk merevisi Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2026. Emiten pertambangan, dan produsen logam timah itu membukukan pendapatan Rp10,4 triliun, melonjak 147 persen. Laba bersih Rp2,7 triliun, atau melonjak 805 persen.

Direktur Keuangan Timah Fina Eliani mengatakan hal tersebut, dalam sesi Public Expose Live 2026, Kamis (10/9/2026).

"PT Timah sedang menyusun RKAP perubahan dikarenakan memang dari sisi variable dan pencapaian kinerja sudah jauh lebih tinggi dibandingkan yang disetujui pemegang saham sebelumnya," ujar Fina dalam sesi Public Expose Live 2026, Kamis (10/9/2026).

Menurut Fina Eliani, sampai pertengahan 2026, BUMN Pertambangan itu, membukukan pendapatan sebesar Rp10,4 triliun. Realisasi tersebut melonjak 147% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dan telah mencapai sekitar 67% dari target pendapatan dalam RKAP 2026 sebesar Rp15,35 triliun.

Bagusnya lagi kinerja positif juga tercermin dari EBITDA yang mencapai Rp3,9 triliun, tumbuh 363% secara tahunan. Capaian tersebut bahkan telah melampaui target EBITDA sepanjang 2026 yang ditetapkan Rp2,9 triliun.

Satu hal lagi, laba bersih Timah mencapai Rp2,7 triliun, atau melonjak 805% dibandingkan semester I-2025. Realisasi tersebut juga telah melampaui target laba bersih dalam RKAP 2026 sebesar Rp1,6 triliun.

Total Aset Mencapai Rp16,4 Triliun Meningkat 21 Persen

Dari sisi neraca, total aset Timah pada akhir semester I-2026 mencapai Rp16,4 triliun, meningkat 21% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan tersebut terutama ditopang oleh pertumbuhan kas dan setara kas yang meningkat dari Rp1,7 triliun menjadi Rp4 triliun.

Kemudian, liabilitas perseroan juga meningkat 13% menjadi Rp5,9 triliun. Kenaikan tersebut terutama berasal dari pencatatan kewajiban pembayaran dividen berdasarkan hasil RUPS 12 Juni 2026. Kewajiban tersebut telah dibayarkan pada Juli 2026.

Sejalan dengan kenaikan aset dan liabilitas, ekuitas Timah juga meningkat menjadi Rp10,5 triliun dibandingkan posisi akhir 2025.