Kredit Perbankan Melemah, OJK Ungkap Tiga Penyebabnya
:
0
Otoritas Jasa Keuangan (OJK). dok. Tribunnews.
EmitenNews.com - Otoritas Jasa Keuangan mencatat, setidaknya ada tiga penyebab melambatnya pertumbuhan kredit perbankan nasional. Pertumbuhan kredit perbankan melambat ke level 8,88% secara tahunan (year on year/yoy) pada April 2025. Ini menjadi perlambatan yang terjadi dalam dua bulan terakhir di tengah berbagai dinamika ekonomi.
Dalam keterangannya yang dikutip Senin (9/6/2025), Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae mengungkapkan ada tiga faktor utama yang menyebabkan laju kredit perbankan cenderung lesu.
Pertama, kecenderungan sejumlah bank memilih memarkir likuiditas di instrumen lain, seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN). Namun Dian mengingatkan bahwa instrumen ini sebenarnya kurang optimal secara imbal hasil.
"SRBI sekarang cuma kasih imbal hasil sekitar 6,5%-7%. Padahal kalau kasih kredit, bisa dapat return lebih tinggi. Jadi logikanya, kredit tetap menjadi tujuan utama bank karena lebih menguntungkan dalam jangka panjang," ujarnya di Jakarta pekan lalu.
Kedua, permintaan kredit sangat bergantung pada kondisi sektor riil. Jika dunia usaha belum ekspansif, maka permintaan kredit pun cenderung rendah.
"Awal tahun biasanya memang melambat. Tapi kami optimistis akan bounce back di kuartal dua dan tiga, terlebih sekarang kondisi makro makin stabil," ujarnya.
Stabilitas ini didukung oleh penguatan rupiah, penurunan suku bunga acuan BI ke 5,5%, serta penurunan tingkat bunga penjaminan (TBP) oleh LPS.
Ketiga, faktor perlambatan di awal tahun merupakan pola musiman yang kerap terjadi. Selain itu, secara likuiditas perbankan juga sangat memadai. Loan to Deposit Ratio (LDR) kita masih sekitar 80%, artinya masih ada ruang besar untuk ekspansi kredit.
OJK mendorong, ke depan, agar penyaluran kredit lebih diarahkan ke sektor-sektor prioritas, seperti perumahan rakyat, hilirisasi industri, dan UMKM. Diharapkan, langkah ini akan mendongkrak permintaan kredit dalam waktu dekat. ***
Related News
Terkonsentrasi Tinggi, BEI Labeli HSC Saham HATM Sebesar 96,09 Persen
OJK Beber Hong Kong Bakal Jadi Benchmark Demutualisasi Bursa
Pengumuman BEI, Ada Saham Masuk Radar HSC
OJK Tegaskan Pidato Presiden Bukan Pemantik Volatilitas IHSG
BEI Rilis 59 Emiten Terancam Delisting, 18 Daftar Lama Masih Gantung
Potensi Delisting, BEI Masukkan 59 Saham ke Daftar Watchlist!





