EmitenNews.com—PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menyampaikan, pihaknya akan menurunkan peringkat PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR), jika perusahaan sawit ini berutang jauh lebih tinggi, tanpa dikompensasi profil bisnis yang kuat.

 

Hal tersebut disampaikan Pefindo dalam siaran pers yang dikirim melalui surat elektronik, Selasa (5/7). Saat ini Pefindo menetapkan peringkat SMAR di level idAA- (Double A Minus), dengan outlook peringkat di posisi 'Stabil'.

 

Peringkat yang sama juga diberikan pada surat utang SMAR, yakni Obligasi Berkelanjutan IV, dengan nilai sebesar-besarnya Rp6 triliun, termasuk penerbitan pada Tahap I sebesar Rp1,5 triliun. "Dana dari penerbitan obligasi ini akan digunakan untuk membiayai kembali utang SMAR," demikian disebutkan Pefindo.

 

Pefindo juga menyematkan peringkat idAA- untuk Obligasi Berkelanjutan II dan Obligasi Berkelanjutan III yang diterbitkan oleh SMAR. "Peringkat perusahaan mencerminkan model bisnis SMAR yang terintegrasi dengan profil perkebunan yang baik, segmen dan wilayah usaha yang terdiversifikasi, serta permintaan minyak sawit domestik dan global yang tinggi, sehingga mengarah pada proteksi arus kas yang kuat".

 

Namun demikian, ungkap Pefindo, peringkat tersebut dibatasi oleh kebutuhan modal kerja yang tinggi, ketergantungan yang tinggi terhadap pasokan bahan baku eksternal dan paparan dari fluktuasi harga komoditas global, serta perubahan iklim.

 

Peringkat dapat diturunkan, jika SMAR memiliki utang yang jauh lebih tinggi, tanpa dikompensasi oleh profil bisnis yang semakin kuat. EBITDA yang jauh lebih rendah dari harapan di tengah saldo utang yang tinggi dan kebutuhan modal kerja yang dibiayai oleh pinjaman juga dapat memicu penurunan peringkat," sebut Pefindo.

 

Tetapi, Pefindo bisa saja menaikkan peringkat SMAR, apabila perusahaan perkebunan kelapa sawit ini mampu secara konsisten melampaui target pendapatan, EBITDA dan bisa menjaga struktur permodalan yang konservatif. "Perusahaan juga harus mengelola kebutuhan modal kerjanya secara efisien untuk mengurangi pinjaman modal kerja".