Refleksi Imlek: Generasi Sandwich Bertahan Hari Ini, Cemas Esok Hari
Ilustrasi Tahun Baru China 2026 (studycli.org)
EmitenNews.com - Tahun Baru Imlek selalu identik dengan kebersamaan keluarga, harapan baru, dan doa untuk masa depan yang lebih baik. Namun di balik suasana hangat tersebut, banyak pekerja Indonesia justru menjalani refleksi yang lebih dalam: bagaimana menjaga keseimbangan antara tanggung jawab keluarga dan masa depan finansial sendiri.
Survei Sun Life Indonesia menunjukkan sekitar 90 persen pekerja Indonesia saat ini berada dalam posisi menopang kebutuhan orang tua sekaligus anak. Peran sebagai generasi “sandwich” ini membuat banyak orang harus mengatur ulang prioritas hidup, termasuk rencana pensiun.
Tekanan tersebut tercermin dari temuan bahwa 40 persen responden menurunkan ekspektasi gaya hidup saat pensiun, sementara 23 persen lainnya memperkirakan harus menunda atau bahkan tetap bekerja setelah usia pensiun. Bagi sebagian orang, bekerja lebih lama menjadi pilihan. Namun bagi banyak lainnya, itu adalah konsekuensi dari keterbatasan perencanaan.
Nilai bakti kepada orang tua memang menjadi fondasi kuat budaya Asia. Namun survei yang sama juga mencatat 71 persen responden masih membutuhkan tambahan penghasilan demi menjaga stabilitas finansial pribadi. Artinya, membantu keluarga kerap dilakukan sambil mengorbankan ruang untuk menyiapkan masa depan sendiri.
Imlek yang sarat makna awal baru pun menjadi momen tepat untuk meninjau ulang kesiapan pensiun. Faktanya, 24 persen responden mengaku belum memiliki rencana pensiun sama sekali, dan 34 persen baru mulai memikirkannya dalam dua tahun terakhir sebelum berhenti bekerja. Perencanaan yang terlambat membuat pilihan di masa depan menjadi semakin terbatas.
Di sisi lain, cara masyarakat mencari informasi keuangan juga berubah. Pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan generatif untuk mencari informasi finansial meningkat signifikan. Akses informasi yang lebih luas membuka peluang pemahaman yang lebih baik, meski keputusan jangka panjang tetap membutuhkan pertimbangan matang.
Selain aspek finansial, kesehatan muncul sebagai faktor penentu kualitas pensiun. Sebanyak 58 persen responden yang merasa optimistis menghadapi masa pensiun menyebut kondisi fisik yang baik sebagai alasan utama. Sebaliknya, kesehatan yang menurun justru mendorong sebagian orang untuk pensiun lebih cepat dari rencana.
Presiden Direktur Sun Life Indonesia, Albertus Wiroyo, menilai meningkatnya usia harapan hidup masyarakat Indonesia perlu diimbangi dengan kesiapan finansial yang lebih matang. Menurutnya, peran institusi keuangan menjadi penting untuk membantu masyarakat mengubah ketidakpastian menjadi peluang, sehingga pensiun dapat dijalani dengan lebih tenang dan bermakna.
Related News
Recap Sepekan Jelang Imlek, BEI Catat 2 Obligasi dan 1 Sukuk Baru
Mari Cermati Profil VISI, Emiten Yang Diincar Pesohor Nagita Slavina
Harta Melesat Capai Rp390,98T, Sukanto Tanoto Jadi Orang Terkaya Kedua
Pensiunan Hakim MK Ini Cerita Titik Awal Indonesia Tak Baik-baik Saja
Prabowo dan Zinedine Zidane Bertemu di Davos, Ini yang Dibahas
Bali Masih Jadi Destinasi Wisata Terbaik Dunia Versi TripAdvisor





