EmitenNews.com - Di tengah pelemahan nilai tukar rupiah yang terus berlanjut hingga melewati batas psikologis Rp18.000-an per dolar AS, Bank Indonesia memastikan terus melakukan intervensi di pasar valas dengan intensitas lebih tinggi.

“Bank Indonesia terus hadir di pasar dan meningkatkan intensitas intervensi untuk memastikan mekanisme pasar berjalan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah terjaga sesuai fundamentalnya,” kata Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti dalam keterangan resmi di Jakarta, Kamis (4/6/2026).

Destry menambahkan bahwa bank sentral juga memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter pro-market untuk tetap menarik aliran modal masuk ke instrumen aset domestik.

“Intervensi berkesinambungan akan terus dilakukan secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai pembelian SBN di pasar sekunder,” tegas Destry Damayanti.

Koordinasi serta komunikasi dengan korporasi dan pelaku pasar lainnya juga terus dilakukan secara intensif.

Destry menjelaskan bahwa pelemahan nilai tukar masih dipengaruhi oleh tensi geopolitik Timur Tengah yang kembali tereskalasi dan menghambat prospek damai. Upaya damai antara Israel-Amerika Serikat dengan Iran, tak kunjung terwujud.

Alhasil, situasi itu mendorong harga minyak tetap tinggi dan meningkatkan risiko inflasi global serta arus dana keluar dari negara emerging.

Kebutuhan Valas Masih Cukup Besar

Satu hal lagi, kebutuhan valas di domestik masih cukup besar sesuai dengan pola repatriasi dividen dan pembayaran utang luar negeri (ULN).

Destry mengungkapkan, pelemahan rupiah secara umum masih sejalan dengan regional, juga pelemahan secara tahun kalender berjalan (year to date/ytd) -7,44 persen.