EmitenNews.com - Nilai tukar rupiah masih terpantau stabil di kisaran Rp17.900-an per dolar AS pada Rabu sore 1 Juli 2026. Kondisi itu terjadi meski Badan Pusat Statistik BPS baru saja merilis neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 tercatat defisit USD 1,61 miliar.

Pantauan Emitennews dari kalkulator konversi Google rupiah pada pukul 15.10 WIB berada di level Rp17.953 per dolar AS.

Kurs acuan Bank Indonesia BI per 30 Juni 2026 berada di Rp17.945,28 untuk jual dan Rp17.766,72 untuk beli. Sementara kurs tengah pasar 1 Juli 2026 tercatat Rp17.945.

Data perbankan 1 Juli 2026 pukul 13.04 WIB menunjukkan Maybank menetapkan e-Rate USD di Rp17.933 beli dan Rp17.954 jual. BCA berada di Rp17.953 beli dan Rp17.973 jual dengan kurs tengah Rp17.963.

Defisit Mei Tidak Langsung Tekan Rupiah

BPS mencatat defisit perdagangan Mei 2026 sebesar USD 1,61 miliar. Angka itu berbalik dari surplus USD 4,30 miliar pada Mei 2025. Ekspor turun 5,73 persen yoy menjadi USD 23,20 miliar, sementara impor naik 22,16 persen yoy menjadi USD 24,81 miliar.

Namun pelemahan rupiah lebih dulu terjadi pada akhir Mei 2026. Data Bloomberg mencatat rupiah melemah ke Rp17.796 per dolar AS pada 26 Mei dan Rp17.885 pada 29 Mei.

Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong menyebut pelemahan lebih dipengaruhi faktor domestik. “Pasar saham domestik masih negatif dan menunjukkan risk appetite investor asing belum pulih,” ujarnya.

Sentimen Danantara dan The Fed Lebih Dominan

Analis menilai sentimen utama rupiah saat ini bukan data dagang satu bulan, melainkan isu tata kelola dan kebijakan global.