Samcro Hyosung Adilestari (ACRO) Tetapkan Harga IPO Rp108 per Saham
EmitenNews.com - PT Samcro Hyosung Adilestari Tbk (ACRO) bersiap untuk go public di Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui Initial Public Offering (IPO). Harga IPO yang telah ditetapkan adalah Rp 108 per saham, berada di batas atas rentang penawaran awal antara Rp 103 per saham hingga Rp 108 per saham. Dengan ini, calon emiten dengan kode saham ACRO berpotensi mendapatkan dana segar hingga Rp 75 miliar.
Proses penawaran awal atau bookbuilding dilaksanakan pada 3-9 Januari 2024, dengan rencana pencatatan saham di BEI pada tanggal 10 Januari 2024. Dana yang diperoleh dari hasil IPO, setelah dikurangi biaya emisi, akan dialokasikan sekitar 30% untuk pembelian mesin, 10% untuk pembayaran sebagian utang pokok pinjaman dalam dolar Amerika Serikat (AS) dari PT Bank Woori Saudara 1906 Tbk, 15% untuk sewa gudang dan pembelian kendaraan operasional, sementara sisanya akan digunakan untuk modal kerja dan kebutuhan lainnya.
Selain itu, dana yang dihasilkan dari pelaksanaan Waran Seri I akan sepenuhnya digunakan untuk modal kerja, termasuk operasional perusahaan, pembelian bahan baku, pembayaran utang dagang, dan gaji karyawan.
UOB Kay Hian Sekuritas bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi efek. Perusahaan juga menerbitkan maksimal 231.276.000 Waran Seri I secara gratis, di mana setiap pemegang 3 saham baru berhak mendapatkan 1 Waran Seri I. Masing-masing Waran memberikan hak kepada pemegangnya untuk membeli 1 saham baru dengan harga pelaksanaan Rp 186. Total hasil pelaksanaan Waran Seri I diperkirakan mencapai sebanyak-banyaknya Rp 43,01 miliar.
Samcro Hyosung Adilestari beroperasi di sektor industri dan perdagangan, menghasilkan berbagai produk seperti perekat hook dan loop/magic tape atau pita pengait rekat dan webbing tape. Produk ini merupakan alternatif pengganti kancing dan resleting.
Pemegang saham Samcro Hyosung Adilestari sebelum IPO di antaranya adalah Chung Tae Sung sebanyak 61,97% saham seri A. Ia adalah pihak pengendali perseroan dan pihak yang menjadi pemilik manfaat akhir (ultimate beneficial owner) perseroan, yang juga menjabat sebagai direktur utama perseroan
Related News
Makin Bengkak, Sepanjang 2025 JGLE Defisit Rp815 MiliarĀ
Perkuat Modal, NICE Tarik Pinjaman dari Bank UOB Rp100 Miliar
Tumbuh Minimalis, BRIS 2025 Tabulasi Laba Rp7,56 Triliun
Fundamental Solid, Bank Mandiri Perkuat Peran Sebagai Mitra Pemerintah
CBDK Raup Marketing Sales Rp430 Miliar, Ini Segmen Penyumbang Terbesar
Pasok Energi, PTBA Perkuat Ekosistem Hilirisasi Bauksit





