Sektor Manufaktur Yang Dipengaruhi Ekspor dan Investasi, Rentan Faktor Internal
:
0
EmitenNews.com - Pertumbuhan sektor manufaktur yang selama beberapa dekade terakhir selalu ditopang oleh industri berbasis sumber daya ternyata rentan terhadap faktor eksternal. Selain dipengaruhi oleh faktor seperti ekspor dan investasi, sektor manufaktur juga rentan terhadap krisis eksternal. Sehingga, kondisi tersebut perlu dipahami.
Hal ini disampaikan oleh Rektor Universitas Padjadjaran, Profesor Rina Indiastuti dalam diskusi daring, Senin (7/8). Prof. Rina mengatakan, pandemi Covid-19 juga merupakan salah satu krisis yang dihadapi sektor manufaktur. Pulihnya sektor ini pascapandemi menunjukkan bahwa manufaktur masih punya kekuatan, didukung oleh kekayaan sumber daya alam serta pasar yang luas.
Karenanya, untuk meningkatkan kontribusi sektor manufaktur, perlu dilakukan reorientasi dan penguatan strategi dalam mengoptimalkan peluang pasar global. Upaya yang ditempuh antara lain adalah dengan menyetarakan kemampuan dan kualitas sektor industri di dalam negeri dengan di negara lain, termasuk dengan update tekonologi. Selanjutnya, perlu mengikuti kebijakan-kebijakan kelembagaan yang diambil oleh negara lain karena berpengaruh pada keputusan investasi yang akan ditanamkan di Indonesia.
Terkait penurunan kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB, peneliti senior LPEM FEB UI yang juga merupakan Tenaga Ahli Menteri Keuangan Bidang Industri dan Perdagangan Internasional, Kiki Verico berpendapat bahwa hal tersebut perlu diperbaiki. Namun begitu, tidak mudah untuk mengatakan suatu negara mengalami deindustrialisasi hanya karena sektor manufaktur mengalami penurunan kontribusi.
Ia menyampaikan, deindustrialisasi adalah sebuah kondisi yang dipengaruhi oleh kebijakan yang terjadi akibat ekonomi tidak kompetitif atau terlalu tertutup, sehingga menyebabkan inflasi tinggi, nilai tukar tidak stabil, suku Bungan tinggi, dan daya saing manufaktur menurun. “Inflasi di Indonesia, khususnya sejak 2016, selalu lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi, kecuali saat awal pandemi Covid-19 pada 2020. Sehingga tidak bisa dikatakan memicu deindustrialisasi,” Kiki menekankan.
Sektor manufaktur berkontribusi terhadap nilai tambah PDB nasional sebesar 19 persen, terbesar di antara sektor lainnya. Sektor ini juga merupakan sektor terbesar ketiga dalam penyerapan tenaga kerja. “Sektor manufaktur merupakan game changer. Indonesia disebut emerging karena pertumbuhannya di atas pertumbuhan ekonomi dunia dan menjadi the puller of global economic growth. Sehingga, dunia melihat Indonesia sebagai sumber pertumbuhan,” paparnya.
Percepatan pertumbuhan perlu dikejar sebelum terjadi penurunan deviden demografi yang diperkirakan terjadi pada tahun 2037. “Dengan target pertumbuhan ekonomi sebesar 6-7 persen, Indonesia perlu menguatkan struktur melalui manufaktur sehingga kontribusinya dapat kembali pada kisaran 28-30 persen. Pertumbuhan sektor manufaktur diharapkan mencapai 9-10 persen,” jelas Kiki.
Sektor manufaktur mengikat daya saing dan investasi global serta menentukan daya saing Indonesia dalam ekonomi global. Hal ini dapat ditingkatkan melalui transformasi ekonomi yang akan berdampak pada penciptaan lapangan kerja, peningkatan produktivitas, penciptaan konvergensi dalam ekonomi, penguatan integrasi ekonomi baik bilateral maupun kawasan dan global, serta mendorong Total Factor Productivity (TFP) beripa kegiatan inovasi dan R&D.
Langkah yang perlu diambil untuk meningkatkan kontribusi sektor manufaktur di antaranya meningkatkan kualitas SDM manufaktur termasuk melalui peningkatan investasi manufaktur. Selanjutnya, terus mendorong ekonomi inklusif manufaktur melalui penerapan teknologi digital. Kiki menekankan, transformasi struktural manufaktur dilakukan dengan menjadikan Indonesia sebagai basis produksi manufaktur dunia, termasuk pada produk-produk green industry.
Kiki menyampaikan bahwa hasil studinya menunjukkan terdapat negara-negara yang berpotensi menjadi production network bagi sektor manufaktur Indonesia. Salah satunya adalah Vietnam “Indonesia berpotensi bermitra dengan Vietnam, didukung oleh Australia melalui IA-CEPA dan Korea Selatan melalui IK-CEPA. Arah manufaktur masa depan berbasis tambang, seperti nikel, besi, baja dan timah, termasuk ke arah pengembangan produk baterai untuk mendukung ekosistem electric vehicle,” ujarnya.
Related News
Kemendag Minta Klarifikasi Traveloka Terkait Refund Pembatalan Tiket
Dubes China Dukung Perluasan Akseptasi QRIS di Negaranya
Tutup April 2026, IHSG Merosot Tajam Tinggalkan Level 7.000
IHSG Sesi I Ambles 2,46 Persen, Asing Net Sell Rp0,97 Triliun
Bursa Sorot MSIE-HBAT, BOBA Dilepas, dan BAPA Kena Suspensi Kedua
Begini Bahlil Respon Laporan JP Morgan Soal Konsumsi Energi





