EmitenNews.com - Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) atas nama Menteri Keuangan hari ini menetapkan Hasil Penjualan Obligasi Negara Ritel seri ORI021. Dari instrumen Surat Utang Negara (SUN) ritel pertama di tahun 2022 tersebut pemerintah melalui Kemenkeu berhasil menyerap utang Rp25,06 triliun.
Rencananya dana hasil penjualan ORI021 akan dipergunakan untuk memenuhi target pembiayaan APBN 2022, termasuk pemulihan dampak pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).
Berdasarkan catatan DJPPR, penerbitan ORI021 memecahkan rekor jumlah investor sejak penerbitan SBN ritel, yaitu 56.238 investor. Dimana 25.405 atau 45,2% dari jumlah total investor merupakan investor baru.
Dengan mempertimbangkan yield SBN di pasar sekunder serta likuiditas di pasar yang cukup ample, ORI021 ditawarkan dengan kupon terendah sepanjang sejarah penerbitan SBN ritel tradable, yaitu sebesar 4,9%.
"Walaupun tidak ada seri ORI yang jatuh tempo di awal tahun, animo masyarakat sangat tinggi untuk berinvestasi di ORI021," demikian keterangan resmi DJPPR hari ini.
Untuk memenuhi tingginya animo masyarakat tersebut, Pemerintah melakukan penambahan kuota (upsize) selama masa penawaran ORI021. Antusiasme masyarakat juga terlihat dari keikutsertaan dalam kegiatan edukasi yang dilaksanakan terkait penawaran ORI021.
Pada penerbitan ORI021 kali ini Mitra Distribusi (Midis) bank masih mendominasi penjualan ORI021, baik dari nominal maupun jumlah investor. Untuk kelompok non-bank, nominal penjualan terbesar dicapai oleh Perusahaan Efek dan jumlah investor terbesar dicapai oleh Perusahaan Fintech AP.
Investor ORI021 tersebar dari seluruh wilayah provinsi di Indonesia. Adapun ringkasan hasil pemesanan ORI021 adalah sebagai berikut:
1. Rata-rata pemesanan (tingkat keritelan) ORI021 sebesar Rp445,7 juta/investor, lebih baik dibandingkan ORI020 sebesar 499,1 juta/investor. Terdapat 3.263 investor yang melakukan pemesanan dengan nominal Rp1 juta.
2. Berdasarkan jumlah investor, Generasi Milenial kembali mendominasi investor ORI021 dengan porsi sebesar 40,7%, namun secara nominal masih didominasi oleh generasi X (37,2%).
Related News
Kemendag Minta Klarifikasi Traveloka Terkait Refund Pembatalan Tiket
Dubes China Dukung Perluasan Akseptasi QRIS di Negaranya
Tutup April 2026, IHSG Merosot Tajam Tinggalkan Level 7.000
IHSG Sesi I Ambles 2,46 Persen, Asing Net Sell Rp0,97 Triliun
Bursa Sorot MSIE-HBAT, BOBA Dilepas, dan BAPA Kena Suspensi Kedua
Begini Bahlil Respon Laporan JP Morgan Soal Konsumsi Energi





