IDXINDUST

 0.52%

IDXINFRA

 0.28%

IDXCYCLIC

 0.98%

MNC36

 0.74%

IDXSMC-LIQ

 0.43%

IDXHEALTH

 1.10%

IDXTRANS

 2.42%

IDXENERGY

 1.40%

IDXMESBUMN

 0.75%

IDXQ30

 0.87%

IDXFINANCE

 0.63%

I-GRADE

 0.73%

INFOBANK15

 0.75%

COMPOSITE

 0.71%

IDXTECHNO

 0.70%

IDXV30

 0.67%

ESGQKEHATI

 0.64%

IDXNONCYC

 0.13%

Investor33

 0.67%

IDXSMC-COM

 0.76%

IDXBASIC

 0.97%

IDXESGL

 0.75%

DBX

 1.37%

IDX30

 0.65%

IDXG30

 0.40%

ESGSKEHATI

 0.67%

KOMPAS100

 0.77%

PEFINDO25

 1.13%

BISNIS-27

 0.67%

ISSI

 0.79%

MBX

 0.64%

IDXPROPERT

 0.52%

LQ45

 0.59%

IDXBUMN20

 0.91%

IDXHIDIV20

 0.71%

JII

 0.90%

IDX80

 0.77%

JII70

 0.84%

SRI-KEHATI

 0.71%

SMinfra18

 0.42%

KB Bukopin
victoria sekuritas

Andalkan 3 Lini Bisnis Baru, INDY Pede Bisnis Non Batubara Sumbang 50 Persen Pendapatan

09/09/2022, 10:45 WIB

Andalkan 3 Lini Bisnis Baru, INDY Pede Bisnis Non Batubara Sumbang 50 Persen Pendapatan

EmitenNews.com—PT Indika Energy Tbk (INDY) terus melakukan ekspansi bisnis non batubara, terutama di bidang tambang emas, kendaraan listrik, dan pembangkit listrik tenaga surya.


Head of Investor Relations Indika Energy, Ricardo Silaen, mengatakan bahwa ke depan Indika akan semakin agresif melalukan diversifikasi bisnis non batubara. "Karena kami optimis target pendapatan 50% dari bisnis non batubara pada 2025 bisa dicapai," kata Ricardo dalam channel Youtube Mirae Aset Sekuritas Indonesia, Kamis (8/9).


Pertama, bisnis tambang emas direalisasikan melalui investasi di PT Masmindo Dwi Area, anak usaha Nusantara Resources Limited (NUS) pemegang Kontrak karya dan pengelola tambang emas di proyek Awak Mas di Luwu, Sulawesi Selatan. Sebelum akuisisi, INDY melalui anak usahanya Indika Mineral telah memiliki sekitar 28% saham NUS.


Investasi INDY sudah dilakukan sejak akhir 2018 dan secara bertahap kepemilikan perseroan kini sudah 100% saham NUS. Terakhir INDY melakukan akuisisi sebesar USD42,8 juta dengan tambahan 72% saham di Masmindo, baik secara langsung dan tidak langsung.


Untuk status proyek, tahap front end energy design (FEE) telah diselesaikan pada April 2022 dan proyek konstruksi tambang diharapkan bisa dimulai pada Januari 2023. "Kita targetkan sudah biss mulai produksi pada 2025," ujar Ricardo.


Kedua, INDY serius masuk ke bisnis kendaraan listrik. Hal itu ditandai dengan peluncuran motor listrik pertama mereka dengan merek ALVA ONE pada ajang GIASS pada Agustus 2022. Peluncuran motor listrik itu dilakukan oleh Indika Energy, melalui PT Ilectra Motor Group (IMG), yang bergerak dalam industri kendaraan listrik.


ALVA ONE tampil dengan desain motor matic bongsor, ditawarkan dengan harga on the road Jakarta Rp 34,9 juta. Dengan harga tersebut, ALVA ONE menjadi alternatif bagi peminat Yamaha NMax atau Honda PCX.


PT Ilectra Motor Group (IMG) selaku pemilik motor listrik ALVA ONE, didirikan Indika Energy dengan menggandeng Alpha JWC Ventures dan Horizons Ventures. Dua perusahaan modal ventura itu terkemuka itu, menyuntikkan dana senilai USD7,5 juta atau setara Rp109 miliar untuk pengembangan industri motor listrik.


Kerja sama itu baru disahkan pada Mei 2022 itu. Porsi kepemilikan saham PT IMG mayoritas dipegang Indika Energy sebesar 78,6%. Sisanya 21,4% digenggam bersama oleh Alpha JWC dan Horizons Ventures dengan total nilai investasi sebesar USD15 juta.


"Kami percaya kendaraan listrik akan jadi tren ke depannya," jelas Ricardo.


Ketiga, INDY terus mendorong pengembangan potensi energi terbarukan, khususnya tenaga surya di Indonesia. Perusahaan yang berinvestasi di sektor energi ini, salah satunya akan mengembangkan pembangkit listrik tenaga surya ( PLTS ).


Proyek itu akan digarap melalui anak usaha, Empat Mitra Indika Tenaga Surya (EMITS). Saat ini, EMITS tercatat telah measuk ke pemasangan solar photovoltaic (PV), pengembangan pelabuhan berkelanjutan (green port), hingga pembangunan PLTS hybrid kombinasi solar PV dengan baterai.


Melalui anak usahanya itu, Indika Energy menargetkan bisa mendapatkan kontrak pemasangan sebesar 80-100 Mega Watt peak (MWp) pada 2022. Upaya mencapai target ini akan dikejar dengan menggandeng Fourth Partner Energy, perusahaan energi asal India.


"Kami pilih energi surya karena sumbernya melimpah di Indonesia dan harga listriknya kami yakini bisa kompetitif dengan sumber energi berbasis fosil," tutup Ricardo.


Author: Rizki