OJK dan BEI Ungkap Fakta Kekuatan Baru Investor Ritel
:
0
Logo campaign #AkuInvestorSaham untuk promosi ajakan berinvestasi yang digalakkan oleh BEI. Foto: EmitenNews.com/Aji.
EmitenNews.com - Tekanan jual investor asing sepanjang 2025 yang mencapai Rp17,34 triliun terbukti tidak menggoyahkan ketahanan pasar saham Indonesia. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) mengungkap fakta bahwa lonjakan peran investor ritel domestik menjadi tameng utama likuiditas sekaligus bantalan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di tengah berbagai sentimen geopolitik global.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Inarno Djajadi dalam Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) OJK di Jakarta pada Jumat (9/1) menyentil fakta bahwa struktur pelaku transaksi pasar saham mengalami perubahan secara masif sepanjang 2025.
Investor ritel domestik tampil perkasa sebagai motor utama perdagangan, tecermin dari peningkatan porsi transaksi yang melonjak tajam.
“Proporsi transaksi investor ritel meningkat tajam dari 36 persen di tahun 2024 menjadi 50 persen di tahun 2025,” ujar Inarno.
Dari sisi likuiditas, OJK mencatat rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) sepanjang 2025 mencapai Rp18,07 triliun, meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp12,85 triliun. Aktivitas perdagangan bahkan mencapai puncaknya pada Desember 2025, dengan RNTH menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah di level Rp27,19 triliun.
Meski secara kumulatif asing masih mencatatkan penjualan bersih, arus dana investor global sempat kembali masuk pada akhir tahun. Pada Desember 2025, investor asing membukukan pembelian bersih saham sebesar Rp12,24 triliun secara bulanan.
Sejalan dengan itu, Direktur Pengembangan BEI Jeffrey Hendrik menilai gejolak eksternal, termasuk konflik geopolitik global, bukan lagi faktor yang secara otomatis mengguncang pasar modal Indonesia. Menurutnya, investor domestik kini dominansinya kian menguat usai menilik geopolitik panas pendudukan Venezuela pemilik cadangan minyak terbesar itu oleh negara adidaya Amerika Serikat.
“Ini, kan, bukan gejolak geopolitik pertama yang terjadi dalam kurun paling tidak 5–10 tahun terakhir. Investor kita dari waktu ke waktu makin baik mengantisipasi, makin paham implikasinya ke pasar maupun ke individual itu,” ujar Jeffrey.
Ia mengemukakan bahwa kekuatan pasar saat ini justru tecermin ketika aksi jual asing tak lagi identik dengan pelemahan indeks komposit atu IHSG.
“Asing membukukan net sell. Kalau 5–10 tahun yang lalu, asing melakukan net sell sebesar itu, hampir dapat dipastikan indeks kita pasti turun. Tetapi tahun lalu, asing membukukan net sell yang cukup besar, indeks kita ditutup pada posisi tertinggi,” jelasnya.
Related News
Kabar Gembira Dari Purbaya, Pemerintah Siapkan Insentif Investor Ritel
Sudah Dua Yang Masuk, OJK Umumkan Paket Calon Direksi BEI Pada 4 Mei
OJK Ungkap Hasil Pertemuan dengan MSCI, Apa Saja?
Resmi! Sektor Usaha Kripto hingga AI Kini Punya Payung Hukum
Saham Melesat Ratusan Persen Ini Lepas Suspensi
Siapa Kena Sanksi BEI Q1 2026, Ada BTEL, INAF, SHID, hingga WIKA





