Kampanye Menabung Saham sebagai Distraksi

Tidak ada yang salah dengan kampanye menabung saham jika ditempatkan dalam konteks yang tepat. Literasi keuangan dan peningkatan partisipasi masyarakat memang penting untuk pengembangan pasar modal jangka panjang. Namun kampanye ini menjadi bermasalah ketika digunakan sebagai tameng untuk menutupi persoalan struktural yang jauh lebih serius.

BEI tampak jauh lebih aktif berbicara mengenai pertumbuhan jumlah investor dan kegiatan edukasi dibandingkan membahas kelemahan sistem pengawasan, transparansi perdagangan, dan penegakan aturan. 

Fokus yang berlebihan pada angka partisipasi berisiko mengaburkan fakta bahwa kualitas pasar jauh lebih penting daripada kuantitas. Pasar modal yang sehat tidak dibangun dari slogan dan promosi semata, melainkan dari sistem yang kuat dan dipercaya. 

Tanpa pengawasan yang tegas dan konsisten, kampanye menabung saham hanya menjadi riasan kosmetik yang menutupi retakan mendasar dalam sistem. Lebih buruk lagi, kampanye tersebut dapat menciptakan ilusi keamanan, padahal risiko yang dihadapi investor khususnya investor ritel tidak dikelola dengan baik.

Dampak Jangka Panjang terhadap Kepercayaan Publik

Kepercayaan adalah fondasi utama pasar modal. Tanpa kepercayaan, pasar akan kehilangan fungsinya sebagai sarana penghimpunan dana dan investasi jangka panjang. Ketika publik menyaksikan penurunan saham yang signifikan tanpa respons yang meyakinkan dari otoritas, yang runtuh bukan hanya nilai portofolio, tetapi juga keyakinan terhadap institusi pengelola pasar.

Dampak dari krisis kepercayaan ini tidak bersifat jangka pendek. Generasi muda yang baru mengenal dunia investasi akan menyimpan pengalaman ini sebagai pelajaran pahit. 

Alih-alih melihat pasar saham sebagai instrumen pembangunan ekonomi, mereka justru akan memandangnya sebagai arena yang tidak adil dan penuh ketidakpastian. Jika situasi ini terus dibiarkan, pasar modal Indonesia berisiko kehilangan basis investor jangka panjang yang seharusnya menjadi tulang punggungnya.

Penutup

Ajakan menabung saham tidak akan pernah relevan jika sistem yang menaunginya gagal memberikan rasa aman. BEI tidak bisa terus mengedepankan promosi dan narasi positif sambil mengabaikan realitas pasar yang sarat dengan kelemahan pengawasan dan ketimpangan perlindungan investor. 

Ketika saham rontok dan kepercayaan publik tergerus, yang dibutuhkan bukan slogan atau kampanye, melainkan tindakan nyata.

Sudah saatnya BEI berhenti bersikap pasif dan mulai melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pasar modal. Pengawasan harus diperketat, transparansi harus diperluas, dan perlindungan investor terutama investor ritel harus ditempatkan sebagai prioritas utama. 

Tanpa langkah konkret tersebut, kampanye menabung saham bukan hanya kehilangan relevansi, tetapi juga berpotensi menjadi simbol kegagalan sistem pasar modal Indonesia.

Baca Juga MSCI dan Bursa: Apakah Kapitalisasi Tanpa Transparansi Itu Nyata?